Selasa, 17 Mei 2016
11 Oktober
15 Agustus 2003
Kamis, 16 Juli 2015
Perjalanan Hidup
Pahit getirnya kehidupan telah kualami
Susah senang kubertahan demi si buah hati yang menjadi tumpuan
Bila esok tiada cerah lagi mungkin mendung kan datang
Bila hujan membasahi bumi maka daun pun tumbuh kembali
Bila kerinduan datang ke hati selalu kucoba ‘ntuk hindari
Entah
Sungguh duka pun terasa suka
Bilakah sakit yang aku rasakan
Sungguh kau pun merasa sedih
Cukup sudah kualami
Rasa rindu yang menggelora
Saat hati mulai bicara, kau bisikkan kata mesra untukku
Kembali kita rasakan bersama
Cinta yang saling menyapa antara dua hati yang terjalin sejak lama
Biarkan cinta selalu melangkah
Dalam gerakan hati dan kaki
28 Juni, tanpa tahun
Di setiap kita bertemu ada perasaan aneh yang membuat aku lepas kendali dan mengungkap perasaan yang ada
Sungguh aku sangat kecewa pada nasibku ini
Meski kuharus mencoba untuk sabar dan menerima nasib yang Tuhan berikan
Mungkin ini yang terbaik untukku dan semuanya
6 Januari 2002
Setelah kusadari
Bahwa kita berdua, masih terlalu muda
Banyak sesal di hati, tak ada kedamaian
Mengapa kuharus begini, kemana mesti harus pergi
Tak ingin kukembali lagi, pada orangtua yang sudah membenciku dari bercinta dulu
Apakah orangtua atau kita berdua
Sehingga kita tak bahagia
4 Agustus 2002
Apakah aku tidak pantas untuk tahu dunia luar
Aku tahu dan mengerti semua yang ada di sekitarku
Meski aku diam tapi bukan berarti aku tidak tahu
Aku mengalah karena nasib, bagiku cinta hanya datang sekali
Tapi kasih sayang tumbuh dari hati sanubariku yang paling dalam
Yang sulit aku ungkapkan dengan perasaan
Hanya kesepian yang selalu setia menemaniku dan hanya kerinduan yang selalu membuatku menangis
Haruskah aku lari…lari…dan lari…
Pergi jauh meninggalkan semua yang aku punya
Lepas dari tanggungjawab yang selama ini menjadi beban dalam hidupku
Tapi apakah setelah itu aku bahagia?
Mungkin ya… mungkin juga tidak…
Mungkin jawaban yang pastinya ada pada hatiku sendiri
31 Agustus 2002
Bila pasangannya mengkhianati kepercayaan dan kesetiaan wanita tersebut
Begitu pula aku
Tapi hanya satu yang aku mau
Janganlah kau lupakan kata dan sumpahmu
Karena bila itu terjadi maka bersiaplah terima akibatnya Jangan salahkan mereka disana
Cukup dirimu sendiri yang harus kau tanya
Apakah sikapmu sudah benar padaku?
Jawabannya ada padamu (bukan pada oranglain)
Bagiku kesetiaan dan kasih sayang adalah di atas segalanya
Dan cinta tak pernah pandang perbedaan dan perubahan
Aku hanya menulis yang sebenarnya
Tak ada maksud lain
Kecuali bisikan hati yang selalu ada dalam jiwa, yang menggebu dalam kalbu
28 Juni 2002
Sebelum jauh berjalan dan melangkah pergi
Dengan budimu memandang jernih
Niscaya kau kan tahu dan mengerti
Tiada murni semua maknanya sia-sia semua
Karena aku tak ingin dikasihani
Bukan iba yang aku harapkan
Dengan keadaanku seperti ini
Kuyakin masih ada harapan
Di luar sana masih ada cinta dan kasih yang tulus adanya
Bukan sandiwara karena aku sangat ingin cinta dan kasih sayang yang sebenarnya
Aku yang berduka akan nasibku sendiri
24 Agustus 2002
Antara rasa cemburu dan curiga
Terus menyiksa dalam dada
Sungguh aku terlalu… hingga membuat dirimu bangga
Bahwa kau sangat dibutuhkan
Meski kutahu bahwa diriku tak seperti dulu
Tapi bukankah cinta tak memandang perbedaan ataupun perubahan
Rela kumendapatkan semua walau tanpa keputusan yang pasti
26 Januari 2002
Jauh sudah perjalananku
Cinta dalam dada membuat lara
Rindukan dirimu membuatku menangis
Biarkanlah hujan badai menghalangi cinta ini
Biarkanlah kusimpan rinduku hanya untukmu
Selamanya
Harus kuakui cinta tak selamanya memiliki
Namun engkau selalu membayangiku
Rabu, 15 Juli 2015
20 April 2002
Sebelum lebih jauh dirimu terjatuh
Kini kusadar begitu saja mengimbangi segenap perhatianmu
Baiknya kujelaskan dasar alasan walau menyakitimu, imbalan itu walau kuharus bermanis muka dalam rasa iba bersemukan cinta
Dengan budimu memandang jernih, niscaya kau sadar apa yang telah terjadi
Cinta punyamu iba dariku
Tiada murni maknanya sia-sia semua
Coba pahami kau kan setuju kita berpisah tanpa menyakiti
Biarlah waktu yang mengurai keputusan terbaik yang pernah kita cipta
11 Desember 2002
Lima belas Agustus 93
Pertama kita jumpa, dan kau terus membeli perhatianku
Dengan segala cara kau meyakinkan aku untuk menjadi pengobat luka hatimu
Dan berjanji kan menjadikan aku sebagai pendamping dalam hidupmu
Sampai musibah itu terjadi, kumulai sayang padamu, mulai mencintai kami
Tapi aku juga tak bisa ‘melupakan’ dia yang terlalu baik padaku
Namun takdir menentukan lain aku hanya milik “dia” dan menjadi pendampingnya
Waktu itu kumarah padamu, karena kata-katamu yang menyinggung perasaanku hingga kulari ke pelukan ”dia” dan menjadi istrinya
Walau sebenarnya kutak bisa melupakanmu
(TDS)
1 Juni 2002
Saat kumulai merasakan kasih terhadapmu
Dan mulai menanamkan rasa percaya
Saat terlanjur diri ini tak sendiri lagi
Kau pun mulai mengkhianatiku sama seperti yang kau lakukan dulu
Dengan kata-katamu yang menyejukkan hati
Mendamaikan jiwa, kau menghiburku
Dan aku pun terlena sejenak tanpa sadar apa yang tengah terjadi
Tapi perasaan wanita terkadang lain adanya
Dan kini kurasakan kau tak jujur padaku
Tak sayang terhadap anak-anakmu
Biarlah kini kutempuh jalanku sendiri
Meski pahit kurasakan dan getir kau berikan
Mungkin berpisah lebih baik agar tiada yang menghalangi jalan hidupmu
(TDS)
Realita Hidup
Caci maki saja diriku
Jika itu bisa membuatmu kembali ke masa indah yang tak bisa dilupakan
Terlalu cepat ditinggalkan, sulit kubayangkan
Kalaulah memang kau lupakan segala yang telah terjadi
Bagiku pengorbanan dalam cinta adalah segala-galanya
Bagai penghargaan yang tak dapat dihitung nilainya
Sungguh aku mengharap kata darimu
Bukan janji-janji indah yang dapat menghancurkan hidupku
Bahkan masa depanku yang hampir saja hilang
Lenyap ditelan perubahan zaman
(TDS)
Siasat Cinta
Bila hati ini mulai bicara
Mulut tak perlu berkata
Bila jiwa telah melihat
Mata tak perlu melirik
Hasrat hati pada yang lain
Apa daya tali mengikat
Sungguh suatu kehormatan
Apabila orang yang dicintai memperhatikan
Tapi sungguh kesialan
Apabila si jantung hati tak mau peduli
(TDS)
Rabu, 24 Juni 2015
12 September 2003
Alunan suara takbir berkumandang
Seiring petasan menggema bersahutan
Memaksa diriku hanyut dalam khayal
Terbias senyummu di akhir perjumpaan
Senyuman yang manis selalu penuh dendam
Ketika kau tahu diriku ditunangkan
Kecupan yang terakhir penuh rasa haru
Seakan kemarin kau masih di sampingku
Tak kuasa kumelawan kehendak ayah dan bunda
Akhirnya kuterperangkap dalam duka
Airmataku berlinang, dikala rinduku padamu kan datang
Tiada pernah kumiliki rasa rindu serta cinta
Selain rindu dan cintaku padamu
Datanglah kasih sejenak walau di dalam tidurku
Cukuplah sebagai pengobat rinduku
(TDS)
