Tampilkan postingan dengan label Cerpen Keju. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Keju. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2016

~_~

[Hutan Lindung Elpeem]

Dengan tatapan percaya diri setengah angkuh, pria itu berjalan menelusuri lorong gelap di depannya. Diawali tarikan nafas panjang dan decih menghina, ia telah lama memangkas sisi kemanusiaannya untuk mengokohkan diri di tengah bumi yang tidak manusiawi.

Langkahnya terhenti,

Tap, tap, tap.
Langkah yang lebih pelan (bahkan seakan berjinjit) berjalan mendekatinya. Tubuhnya waspada, dia menarik pisau yang sedari tadi bertengger dengan gagah di pinggang kirinya.

"Aaaaaa" teriakan itu menggema ke seluruh lorong setelah sabetan pisau dengan licin mengenai lehernya.

Tidak lama kemudian langkah kaki yang lebih banyak terdengar mendekatinya. Pria berambut ikal sebahu itu dengan lincah membunuh pemilik langkah-langkah tadi. Bau amis menyeruak di lorong, pria itu kembali berdecih, merasa puas akan perlawannya.

Dia memulangkan pisau basah itu ke dalam rumahnya lalu melanjutkan langkah terakhirnya yang sempat tertunda.
.
.
.
.
.
[Penjara Manatan]

Sinar matahari merangsek masuk melalui fentilasi udara di kiri atas ruangan. Pria tambun yang sudah tiga tahun dijeruji itu menggeliat malas, hingga seorang sipir penjara memanggilnya dengan teriakan yang memekik.

"Hei, Pak Tua bangunlah! Ada yang ingin bertemu".
"Siapa Sipir?" tanyanya seakan bergumam.

"Dia bilang, dia anakmu". Mata pria tambun itu langsung membulat. Dia sadar siapa yang datang, pria itu langsung berdiri kemudian mengusap wajah tidurnya, menepuk pipinya dengan keras hingga memerah terasa segar.

"Anakku, anakku, anakku...." dia mengulangnya pelan seperti sebuah mantera kemenangan.
.
.
.
Pria tambun itu melihat pemuda di depannya dengan seksama, memperhatikan setiap senti bagian tubuh yang mampu dilihatnya. Walau dibatasi sebuah kaca, pria itu merasa puas dengan pemandangan di depannya_pemuda berambut ikal sebahu yang menatapnya datar,

'Dia selamat', ujarnya dalam batin disertai seringai licik.

"Kau berhasil merenovasi rumah kita, Raka?"
Pemuda di depannya mendelik, ia mengerti setiap kode yang tersirat dari pertanyaan itu.

"Iya, aku bahkan melakukannya sendiri. Anak buah kita terlalu sibuk mengurusi villa-villa yang lain".

"Hahaha" tawa berat pria tambun itu membahana. Merasa puas terhadap laporannya.

"Kau memang anakku, Raka"
"Cih, aku hanya melakukan semuanya demi uang. Bukan karena rasa patuhku pada ayah sepertimu, dasar bajingan!" Raka memalingkan wajahnya ke sisi kanan. Menghindari tatapan tajam seseorang yang dulu sempat ia panggil 'ayah'. Seseorang yang sempat ia kagumi, namun dengan tega berperilaku kotor di depan ibunya_melenggang kesana kemari bersama wanita-wanita malamnya.

"Kau masih membenciku?" pertanyaannya mengambang di udara, tak didengar apalagi terbalas.

"Oh iya, apa minggu ini kau bisa urus jadwal keluar? Aku tidak sabar ingin meniduri salah satu wanita koleksiku".

"Ternyata penjara tidak pernah membantumu melupakan mainan-mainan itu. Tugasku hanya merenovasi dan membangun rumah yang lebih mewah, serta menyingkirkan gulma-gulma yang menghalangi perluasannya. Itu saja".

"Apa kau tidak mau membantu ayahmu menemukan mainannya?" satu lagi pertanyaan yang mengambang.

"Aih, anak sialan! Kau bahkan tau aku bisa mati tanpa mainan-mainan itu" gerutu pria tambun dengan nada kesal.

"Terserah, laporanku selesai. Jaga dirimu baik-baik, jangan sampai penjara itu membunuhmu"
"Hei, tunggu. Aku belum selesai bicara, Raka!" seruan yang tidak didengar itu hanya menjadi salam perpisahan. Pemuda dihadapannya pergi dengan wajah tampannya yang tak berekspresi.

"Ish anak nakal itu, ternyata dia masih mengkhawatirkanku" ia bergumam sembari memperhatikan sebuah punggung tegap yang nampak menjauhinya.

"Kau harus kembali ke sel", pria tambun mengangguk. Seorang sipir lantas membawanya kembali ke kamar dingin berbintang 'zero' itu.
.
.
.
.
.
[SMAN 5 Ordem]

"Alma!" gadis bermata hazel itu spontan berbalik. Seorang gadis lain mencoba menghampirinya dengan setengah berlari. Alma terdiam, menunggu sapaan dari sahabatnya itu.

"Akhirnya...." ungkapan yang diselingi nafas pendek-pendek itu terdengar kesal.
"Jalanmu cepat sekali Alma, apa ada roket di sepatumu?" Alma menggelengkan kepalanya polos.

"Ok, aku harus duduk. Bicara denganmu membutuhkan energi besar. Ckckck, rasanya kecantikan itu tidak berpengaruh pada kepintaran seseorang. Oh Tuhan, skenariomu...." gadis itu mengedarkan pandangan dengan mata coklatnya.
"Ketemu!" serunya setelah menemukan tempat yang cocok untuk duduk, kemudian menarik Alma ke sampingnya.

"Aku punya kabar baik"
"Apa?", akhirnya Alma mengeluarkan suaranya.

"Fasya ulangtahun, dan dia mengundang seisi sekolah untuk berpesta di rumahnya"
"Terus?" yang ditanya menarik rambut pendeknya dengan kesal_frustasi.

"Maksud aku Alma, bagaimana kalau kita datang? Aku yakin Fasya pasti senang"
"Aku gak mau" Alma mengambil handphone lantas membuka game favoritnya.

"Anak ini...." gumam sahabatnya kesal.

"Rinka" gadis berambut pendek itu merasa terpanggil.
"Aku capek jadi penggemar, melihat Fasya sama seperti melihat kebodohanku sendiri. Sampai kapan pun, Fasya hanya milik Sa...." Rinka langsung memeluk sahabatnya, dia sadar gadis itu tidak akan sanggup meneruskan kalimatnya.

"Menangislah, Alma" gadis hazel itu perlahan membasahi pundak sahabatnya.

"Malam ini kita pergi shopping aja ya". Alma menggeleng dalam pelukannya,
"Terus mau kemana?"
"Tidur" jawaban Alma terkesan tidak menyenangkan.

"Aduh, hidupku. Oranglain berpesta ria dan aku hanya tidur? Membosankan sekali, oh Tuhan wajah cantikku bisa mubadzir...." Alma terkekeh geli dengan kalimat sahabatnya.

"Dan kau, kenapa kau tertawa peri jahat? Kau menghancurkan malam indahku, rasanya aku akan mati jomblo malam ini. Ah tidak, aku tidak mau mati jomblo" Rinka bertingkah konyol dengan memeragakan kata-katanya. Mereka lantas tertawa bersama.
.
.
.
.
.
[Kediaman Pratama]

Rumah yang selalu sunyi itu tiba-tiba ramai, banyak orang hilir-mudik untuk menata setiap sudut ruangan, menghiasnya dengan berbagai perlengkapan pesta.

"Akhirnya selesai, aku yakin Fasya pasti senang" ucap Miya puas.

Miya adalah gadis yang merencanakan pesta megah itu. Semenjak ibu Fasya meninggal, Miya yang hanya berumur tiga tahun lebih tua dari pemuda itu telah bertransformasi menjadi kakak perempuan yang baik. Walau mereka tidak memiliki ikatan darah, Miya tetap menyayangi keluarga Pratama dengan sepenuh hati.

"Bi, Fasya mana?" teriakan itu membuat Miya menoleh. Selain Fasya, pemuda di depannya adalah salah satu alasan terbesar untuk mencintai keluarga Pratama.

"Kamu udah pulang, Raka?" pertanyaan itu hanya dibalas dengan tatapan datar. Miya sadar bahwa pertanyaannya tidak berguna, Raka sudah ada di rumah itu, untuk apa ditanya lagi.

"Kamu udah makan?" pertanyaan kedua, dijawab oleh anggukan.
"Oh...." Miya merasa mati kutu.

"Fasya mana?" pertanyaan itu keluar dengan nada dingin, tapi Miya tetap tertarik untuk menjawabnya.
"Masih di sekolah, aku menata semuanya. Bagaimana menurutmu?" Raka melirik setiap sudut, ada yang aneh.

Dia melangkah menuju sudut ruangan yang dibuat layaknya panggung, memperhatikan sketsa wajah yang tadi pagi ia temui.

"Jangan pasang yang ini" salah satu sketsa berbingkai kaca itu ditutup, sehingga tinggal tiga sketsa yang masih tersisa _wajah Fasya, ayah, dan ibunya_

"Kenapa?" tanya Miya sedih.
"Aku tidak niat bergabung di pesta, jadi untuk apa memasangnya" Raka melangkah ke lantai dua, menuju kamarnya dan meninggalkan Miya yang sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Gadis itu sadar, yang diucapkan Raka adalah sebuah keputusan mutlak.
.
.
.
.
.
[SMA 5 Ordem]

"Alma!" ini kedua kalinya gadis itu dipanggil dari kejauhan, namun oleh dua orang yang berbeda.

Alma menoleh, dia mengenal suara bariton yang memanggilnya. Suara yang dia puja selama tiga tahun ini, Fasya.

"Hei" pemuda itu sudah berdiri di depannya.
"Hei" entah kenapa Alma merasa salah tingkah. Sesekali ia menyelipkan rambut sisa kuncirannya ke belakang telinga. Wajah gadis cantik itu perlahan merona.

"Mau datang ke pesta ulangtahunku?" Alma terhenyak, ragu.
"Jangan bilang gak datang" kata-kata Fasya mengurungkan penolakannya.

"Ok, jam berapa?" tanya gadis itu mantap, di sisi lain dia membayangkan Rinka yang akan kegirangan saat mendengar berita ini.

"Jam 7 malam, di rumahku. Datang ya" Fasya memberikan senyum terbaiknya.
"Oh iya, aku pergi dulu ya".

Kamis, 25 Februari 2016

Yudan-Ja di Hari ke-212

Secara logika, aku tidak pernah mengharapkan apapun darimu, mencintaimu dengan cara seperti ini sudah terasa sangat cukup. Melihatmu bisa tertawa adalah hal yang spesial dan candu, sekalipun tawa itu tidak terjadi bersamaku. Iya, kau harus selalu baik-baik saja_agar sisa-sisa keresahan tidak pernah menempel di dalam hati yang kedinginan
.
.
Sesekali aku memperhatikan kedua kelopak matamu yang tertutup, sesekali juga mengalihkan pandangan dan berusaha mengambil nafas panjang untuk membunuh perasaan canggung_yang juga miris.

Seakan kita hanya mampu berbicara saat malam, dalam kelam dan hening.

Dengan perasaan ragu bukan main, kuusap kembali kepalamu yang katanya sedikit pening. Aku memaklumi, mungkin kau memang lelah menjalani hari yang melelahkan itu. Walau ragu, aku hanya tengah berusaha mencairkan hati dan membuatmu lebih baik.

Hening, yang sebenarnya tidak, kau menyalakan sebuah radio dengan keras_hingga suaranya memenuhi ruangan dengan jendela berlukis Kota Bandung yang temaram.

Sesekali kau bergumam, namun kutegur_biarkan aku menikmati hening yang nampak kabur, biarkan aku sedikit berpikir tentang kita.

Aku menarik nafas lagi, lebih panjang_lantas menghembuskan rasa ragu dalam benak. Aku ingin menegurmu tentang satu hal.

"Kak, masa Dina ngirim aku foto ini" kau membuka mata lantas menoleh.
"Foto apa? Gak keliatan"
"Ini lho". Sejenak memicingkan mata dan seakan berpikir.

"Kenapa harus dikirim ke aku coba yah" gumamku dengan nada riang.

Hening.

"Kakak kayak kucing, seneng banget diusap-usap kepalanya. Hahaha"

Diam.

"Makanya jangan pindah-pindah tangan" saranku sambil iseng mengetuk-ngetuk kepalamu.

"Kamu marah?", wushhh seakan ada angin gunung yang kencang berhembus di balik tubuhku_dingin, tapi wajahku malah memanas.

"Nggak, aku cuma nyaranin aja. Jangan pindah-pindah tangan kalau mau diusapin, nanti orang-orang mengira kakak jahat. Eh bukan sih, maksud aku, nanti orang-orang salah faham dan mengira kalau kakak kesana-kemari", jawabku asal sambil tertunduk.

Dari sudut mata, dengan samar aku bisa melihatmu sibuk memperhatikan tingkahku yang konyol dan itu malah membuatku semakin tertunduk.

Kau meraih tanganku dan mengusapnya lembut.

"Ya udah, maaf ya udah pindah-pindah tangan". Aku menoleh,  dan dengan jelas melihat matamu berbinar.

Aku tidak pernah bisa mengartikan apa makna dari binar mata itu, karena seakan kau tidak pernah memberikanku kesempatan untuk mengartikannya berdasarkan fikiranku sendiri. Iya,  kau selalu begitu_bertindak secara abu-abu.

Sayang, binar mata itu selalu bisa melumpuhkan.

Kau menutup mata dan menggenggam tanganku kembali. Seakan memeluk, menaruhnya tepat di hadapan wajah_hingga dengan jelas aku bisa merasakan setiap helaan nafas dari hidungmu.

Sebagian otakku menolak_karena ini adalah hal yang salah, aku tidak pernah diajarkan untuk berlaku demikian.

Namun sebagiannya lagi menyerah_membiarkan diri larut dalam kegelisahan yang lebih besar.

Aku ingin menangis.
Aku juga ingin tau apa yang tengah kau pikirkan.

Hening.
Sibuk dengan pikiran masing-masing.

Tangan kiriku sibuk memegang kepala yang mendadak berat, aku tertunduk untuk ke sekian kalinya.

Sedang kau menatap bisu lapisan udara di hadapanmu, lantas dengan ragu menutup dan membuka mata bergantian.

Kita terdiam (lagi) dan hening merajai hingga menghimpit dalam beku.

Lantas kau menyandarkan kepalamu, menutup mata lagi_tapi lebih lama
.
.
Beberapa menit kemudian semua berakhir, dan seperti biasa_perpisahan kita selalu meninggalkan rasa bingung dan keraguan.

Iya, aku bingung bagaimana harus bersikap. Kau selalu menempatkanku di posisi yang salah, membuatku tidak profesional.

Kau mampu bersikap biasa_tapi aku harus selalu berusaha bersikap biasa.

Entahlah
.
.
.
Minggu, 28 Februari 2016
Rumah Kemarin

Senin, 01 Februari 2016

Monolog Dini Hari

Dingin, kelam, sepi, dini hari, mengundang diri untuk bermonolog ria. Membicarakan tentang kisah cinta yang asing, mengasingkan kisah cinta yang berbicara.

Monolog dini hari yang tak berjudul, berkisah tentang sepasang manusia yang saling melengkapi. Bukan tentang kesetiaan, bukan pula tentang pengkhianatan, ini hanya sekedar tentang rasa nyaman.

Natasha, sosok wanita yang senang bermain hati dengan beberapa pria. Natasha yang polos tapi nakal. Natasha yang kejam, sedikit.

Galih, si ikal yang penyayang, yang menyamankan Natasha dalam pelukannya. Yang bingung harus berbuat apa, yang terjebak oleh sikap Natasha yang abu-abu.

Kisah Natasha dan Galih adalah sebuah kisah tanpa judul, yang dilantunkan seseorang saat dini hari_saat peri pagi dengan riang menebarkan embun-embun dan bau basahnya. Kisah yang penuh cinta dan kasih, tapi menyembunyikan diri di balik keabu-abuan.

Natasha selalu bertanya kepadaku, "Apakah semua ini salah?". Dan dengan tegas kukatakan "Salah, jika kamu mengharapkan sesuatu yang lebih dari Galih".

Kedekatan mereka begitu rumit untuk dijelaskan, sebuah ketergantungan yang manis, mungkin.

Dulu, saat aku masih menjadi sosok ketiga yang juga polos. Aku tidak mengerti.

Namun sekarang aku mengerti bagaimana situasi itu bisa terjadi.

Natasha dan Galih tidak pernah salah, hubungan yang mereka ciptakan juga tidak pernah salah.

Hanya pandangan orang-oranglah yang keliru.

Hubungan kakak-adik bisa jadi sedekat telunjuk dan jari tengah, bisa sehangat matahari pagi, bisa seromantis senja di ufuk barat. Bisa jadi.

Kisah Natasha dan Galih hanya bisa dimaknai saat dini hari_saat peri pagi dengan riang menebarkan embun-embun dan bau basahnya.

Sebuah monolog dini hari.

Senin, 24 Agustus 2015

Kencan Pertama

Rabu, 10 Desember 2014

Detik-detik berlari pergi, dengan gugup sesering mungkin aku melihat jam beker di depanku. Masih pukul 09.45 WIB, 15 menit lagi !!

“Rambutku udah rapi belum ya ?” tanyaku sendiri.

“Ya Tuhan, aku gugup sekali. Tolong tenangkan aku….” Gerutuku keras di dalam mobil.

Oh iya, ini adalah pertemuan pertama kami setelah empat tahun berpisah kota. Aku di Semarang dan berkutat dengan rupiah akuntansi, sedangkan dia di Lombok dan asyik dengan dunia Manajemen Bisnis-nya.

Tapi awal pertemuan ini memalukan. Ya, akulah yang mengundangnya ke kota tempat domisilinya Lawang Sewu ini ! Lewat sebuah akun media social aku mengajaknya untuk bertemu dan reuni-an ( Reuni, terlihat sekali alibinya bukan ?)

“Berdua ? Ok, tapi kamu harus janji mau jadi tour guide-nya ya. Aku juga belum hafal Semarang kok ;)“ Jawabnya waktu itu.

Aku mengambil binder kesayanganku, menyapa sebuah foto di halaman pertamanya. Dia memiliki senyum yang hangat dan sorot mata yang tajam. Sorot mata yang selalu bisa menyusupkan aura semangat dan ketenangan di dalam hati. Ya, setidaknya itu bukan hanya opiniku saja :)

“Foto ini tidak akan berguna untuk hari ini” gumamku tersenyum puas.

Memoriku melesat ke masa putih abu, masa di saat kami menjalani tiga tahun bersama. Di kelas dan organisasi yang sama juga.

‘Ah, masa indahku’. Ya ! Kami hanya berteman biasa, dia terlalu berkilau untuk dimiliki. Dulu aku hanya bagai robot organisasi dan abdi akademik. Tidak lebih, bahkan aku seakan terlalu sibuk untuk sekedar membicarakan hati dengan lelaki.

Namanya Ikbal. Pemain basket andalan sekolah, wakil ketua OSIS dan Ketua Murid yang baik. Digandrungi banyak orang karena paras dan kepopulerannya. And finally, aku nyerah untuk sekedar menunjukkan perasaanku.

Namun pertemuan ini sudah kurencanakan empat tahun lalu. Aku hanya ingin mengatakan rasa suka ini, membebaskan diri dari janji mengucapkannya. Entah apa reaksi Ikbal mendengarnya, namun sungguh aku tidak berniat untuk memilikinya. Aku hanya ingin dia tahu perasaan yang kupendam selama tujuh tahun ini, tidak lebih ! Semoga.

Cuplikan memoriku beralih ke drama Tuhan di malam Prom. Saat itu kami dinobatkan sebagai raja dan ratu dansa, walau sebenarnya dia datang dengan cewek lain ke pesta itu.

*****

‘Kau sangat tampan’ kalimat yang kuteriakkan dalam hati saat Kepala Sekolah memberikan mahkota indah kepadanya.

MC menyuruh kami menyalakan kembang api pertama dan dia menggenggam tanganku untuk pertama kalinya. Aliran panas dan dingin bertarung menguasai tubuhku saat itu.

“Kok tangan kamu dingin ya, Nad ? Kalau gitu jangan marah ya kalau aku megangnya agak lamaan. Hahaha” ucapnya slenge’an. Aku hanya tersenyum datar, padahal sisi lain dariku malah melompat-lompat kegirangan.

Dia mempererat genggaman tangannya tepat saat kembang api pertama memekik membelah langit malam.

“Aku suka sama kamu, Ikbal” ucapku pelan sambil tetap melihat gemerlap langit malam.

Dengan wajah (yang mungkin) merah padam aku meliriknya, berharap dia merespon walau hanya dengan wajah heran. Tapi aku salah ! Dia malah tetap bersorak dan asyik sendiri melihat pertunjukkan kembang api itu.

Saat itu aku yakin bahwa itu bukan saatnya, mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi. Dan merasa ingin direspon merupakan pertanda ketidaktulusan. Tapi tetap saja, rasanya diacuhkan itu sakit !

Spontan aku menangis karena kecewa, lalu mengusap air mata itu dengan telapak tangan kirinya.

‘Ya ampun aku lupa kalau tangan kami masih berpegangan !’

“Kamu sakit, Nad ?”

“Hah ? Nggak kok, aku cuma sedih aja bakal pisah sama ka…. kalian” jawabku sekenanya.

“Oh tenang aja, Nad. Kita pasti ketemu lagi kok. Aku janji suatu saat nanti semuanya bakal berubah, akan tiba waktunya kita bisa berteriak tanpa sungkan di dengar orang. Semua akan berakhir indah, yang terjadi di sekolah ini biarlah terjadi di sini. Senang, susah, dan hal lainnya tinggalkanlah di sini. Biarkan mereka pergi tinggi bersama kembang api itu. Sekarang kita hanya perlu menata hidup dan mempersiapkan diri menghadapi dunia”. Aku menatapnya kosong, sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri.

“Ekh gak ngerti ya ?” dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Aku juga gak ngerti aku lagi ngomong apa. Hahaha” tawanya konyol menghangatkan suasana.

*****

“Tok, tok, tok. Mbak, bisa mundurkan mobilnya sedikit ? Pelanggan kami yang lain mau memarkirkan mobilnya juga”. Kemudian lamunanku semua buyar dan terfokus ke omongan Pak Satpam di restoran itu.

“Iya sebentar ya pak” jawabku sambil mulai mengikuti arahan bapak itu.

Tiba-tiba jantungku berdegup kencang melihat pria berjaket hitam masuk ke dalam restoran. Dari perawakannya, aku merasa mengenalnya. Mengenalnya dengan sangat dekat !

"Alan?"

Alan menarik tangan kananku yang hendak menampar Rere.
"Kamu kayak anak kecil tahu gak sih ?", aku menatapnya tajam. Bahkan kilatan muak dalam batin mampu kurasakan dengan jelas.

Aku melepaskan cengkeraman pria itu, "hhhh" mendengus.
"Kamu bilang aku kekanak-kanakan. Terus kamu apa Lan ?". Aku melihat pertahanan terakhirnya goyah karena pertanyaanku.

"Oh.... Aku lupa, kan cuma orang dewasa ya yang berani selingkuh sama temen pacarnya sendiri".

"Plakkkk" dia menerima hadiah yang kusiapkan untuk Rere sebelumnya.

Pemuda itu menatapku kesal sambil mengelus-elus pipinya yang sakit.
"Heh, siapa suruh kamu nyuekin aku terus. Kamu sibuk ngajar lah, sibuk organisasi, sibuk juga ngerjain tugas. Terus waktu buat aku kapan Ra ?"

"Oh jadi ini semua soal itu Lan ? Oke, pergi aja senang-senang sama cewek itu. Aku sekarang sadar, ini semua salah aku. Salah aku karena terlahir dari keluarga tidak utuh. Salah aku juga kalau ditakdirkan sibuk nyari duit sendiri untuk bayar kuliah karena gak mau nerima duit dari Ayah sialan yang selalu mukulin aku sama Ibu. Silahkan, pergi aja sama cewek itu. Asal kamu tahu ya Lan, di luar sana dia punya puluhan cowok buat dikencani serta diperas kantong dan bensinnya"

"Shit, tahu apa kamu tentang Rere. Kenal aja baru sekarang kan, hah ?"

'Alan, Alan, asal kamu tahu kalau dia itu mantan sahabat yang pernah tega juga berkencan dengan Ayah aku' lirihku dalam batin.

Aku hanya menatapnya, menahan cacian selanjutnya.
"Ok, terserah. Kita putus" Rere menyunggingkan senyum puas hingga Alan menariknya pergi dari hadapanku.

Aku rubuh dan mulai menangis sejadi-jadinya. Apa yang bisa aku perbaiki sekarang, semuanya bahkan sudah terlambat.

Alan, dia adalah orang yang selama dua tahun ini bersamaku. Setia dan menjadi salah satu penyemangat hidupku yang kacau balau setelah perceraian Ayah dan Ibu.

Mungkin itu dulu, bagaimana mungkin dia berubah secepat itu. Apa ini hukuman karena kesibukanku? Tapi apa Tuhan bisa memberikanku waktu lebih untuk memperbaikinya? Sialnya aku sangat mencintai pria itu.

"Ya, aku sayang sama kamu bodoh. Aku rela diduain, tapi jangan sama cewek itu! Aku takut kamu bakalan sakit hati...." aku melanjutkan tangisanku sampai tiba-tiba seseorang menyodorkan sapu tangan yang kukenal.

"Alan?" aku melonjak kaget karenanya, sedangkan pria itu hanya menyeringai puas.

Senin, 03 Agustus 2015

Kenyataan (5A) #14

"Namanya Nadia" seseorang mengagetkanku saat tengah sibuk memperhatikan foto Alfis dengan gadis cantik berbaju SMA.

"Oh ibu" aku berusaha tersenyum menyembunyikan kebingunganku.

Wanita setengah baya yang terlihat masih cantik itu kunamai Ibu Jawa. Kami baru berkenalan kemarin sore. Sebenarnya niatku pergi ke Malang adalah untuk mendaki bersama teman besok pagi. Tapi tidak jadi, seseorang mengacaukan rencana dan malah mengajakku menginap di rumah Ibu Jawa ini.

Intinya, sampai saat ini aku belum sempat menanyakan nama asli Ibu Jawa. Kujuluki begitu karena memang wanita ini memiliki sikap dan wajah ayu khas Jawa.

"Kamu kenal sama Nadia, nak?" Ibu Jawa mengelap bingkai foto itu dengan ujung bajunya. Sebenarnya benda yang dia lap tidak kotor, hanya perasaan khawatir ibu itu saja mungkin.

"Sebenarnya enggak sih bu" aku menggaruk kepala tidak gatal.

"Sini ibu ceritakan" aku mengikuti langkahnya menuju satu kamar di sudut paling kiri rumah.

"Wah...." aku tersentak melihatnya. Nadia ternyata tipikal orang sepertiku. Pemimpi! Semua target hidup, lukisan, ilustrasi, karikatur, naskah fiktif, dan perasaannya dia tuliskan untuk menghiasi dinding-dinding kamarnya.

"Ini kamar Nadia, nak. Dia adalah gadis baik yang periang, tidak pernah mengeluh sedikitpun kalau sakit. Bahkan kami tahu penyakitnya juga setelah dia kritis di rumah sakit" perlahan Ibu Jawa menitikkan airmata.

"Sabar ya bu" aku mengelus pundaknya dan mencoba menguatkan walau belum mengerti titik fokus pembicaraan itu.

"Oh iya, ibu lupa. Nadia pasti akan marah kalau ibu nangis, apalagi di kamarnya" Ibu Jawa itu mengusap ujung matanya yang berair, lantas berusaha tersenyum hambar.

"Nadia itu sakit apa, bu?" sebenarnya aku ragu untuk bertanya.

"Lupus, nak" tercecang, lima tahun yang lalu aku juga dikagetkan dengan kepergian sepupuku yang terkena lupus. 'Kenapa bisa?' tanyaku dalam batin.

"Bu, aku boleh tanya sesuatu?" tanyaku hati-hati.

"Mau bertanya apa, nak?" wanita itu balik bertanya dengan lembut.

"Sebenarnya ibu siapanya Alfis?" alisnya terangkat, dan aku mulai gelagapan. "Maksud aku, kenapa Alfis bisa punya dua ibu? Ibu Ratih dan Ibu...." aku berhenti, bertanya.

"Mala. Nama saya Mala, nak"
"Iya, Ibu Mala" aku tertunduk, kemudian Bu Mala meraih tanganku. Pergi.
"Mari ikut ibu, nak".

Bu Mala mengajakku ke luar rumah. Di pekarangan belakang yang belum sempat kutengok, ternyata ada sebuah kamar khusus. Kamar yang juga ber-khas Jawa itu nampak anggun sendiri. Berdiri di tengah kebun bunga yang senantiasa dirawat setiap harinya.

Wanita itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah kunci berwarna keemasan.

Beberapa detik kemudian pandanganku teralih. Sebuah kamar yang nampak usang terpampang di depanku. Aroma debu merangsek masuk ke dalam hidung. Spontan aku hendak bersin tapi tidak jadi, wanita disampingku menyernyitkan dahi lantas kami tertawa.

Bu Mala membuka kain pelindung yang menutupi sebuah kursi tunggal di ruangan itu. Menepuknya agar tidak berdebu. Perlahan, aku terpukau melihat tarian debu di bawah cahaya mentari. Lembut dan indah.

Dia menyuruhku duduk disana, memperhatikannya dengan seksama.

Ibu

Kamis, 16 Juli 2015

My First Rain Kissing

Kau ternyata tidak sekedar mengajariku bagaimana mengatur nominal uang itu dan memasukannya ke dalam sebuah jurnal, tapi lebih dari itu ! Tanpa sengaja kau mengajari jantung ini sebuah irama kacau tak beralur. Irama yang belakangan ini selalu kurasakan kala dekat denganmu, berbarengan dengan nafas yang tiba-tiba sesaat mata kita bertemu.

Hari ini sama seperti biasanya, kita bertemu di taman kota 3 kali dalam seminggu. Kau mengajariku bagaimana strategi mendapatkan medali emas dalam olimpiade bulan depan.

"Kak, aku boleh nanya sesuatu ?" ucapku terbata karena takut menanyakannya.
"Silahkan Far, kamu mau tahu tentang apa ?" jawabmu dengan senyuman ramah.

Aku terdiam, merangkai kata yang pas untuk disampaikan.

"Kakak masih pacaran sama Kak Anita ?" spontan aku menunduk menghindari tatapanmu.

Dari sudut mata kulihat kau sibuk membereskan buku-buku di hadapanmu. Perasaan kacau menghantuiku, aku menyesal tlah menanyakannya.

"Kita masih pacaran Far" aku menatapmu dengan tatapan yang entah bagaimana. Marah ? Kurasa hatiku begitu, karena sakitnya cukup terasa.

"Tapi sayangnya aku mulai suka sama oranglain. Rasa muakku pada sifat Anita-lah yang membuatku jadi begitu".

"Siapa cewek itu kak ?" mataku membulat mengharapkan jawabannya.

Tiba-tiba terdengar suara petir yang cukup keras dan hujan gerimis mulai turun membasahi bumi. Kau menarikku untuk berteduh, di bawah sebuah pohon yang rindang. Kita tidak sempat berlari ke tempat yang lebih layak, dan tidak sempat juga menyelamatkan buku-buku yang dibawa.

Hujan turun semakin deras, kau menarikku lebih dekat agar air hujan tidak menyentuhku sedikitpun.

Bodoh ! Jantungku berdebar lebih kencang, aku tidak suka kondisi seperti ini. Mata kita sempat bertemu lantas dialihkan, aku sadar kita berdua gugup satu sama lain.

"Emmm soal yang tadi, apa kamu masih penasaran siapa cewek yang aku maksud ?" tanyamu mencairkan suasana.

"Oh, a-aku terserah kakak sih. Mau cerita boleh, nggak juga gak apa-apa". Seperti biasa, aku menjawab pertanyaan orang suka diselingi senyuman. Ekh, tapi dia menatapku lebih lekat. Sontak aku mengalihkan pandangan ke arah hujan.

"Dia, adalah orang yang menyukai rintik hujan". Nalarku yang bodoh berharap kau menyebutkan namaku. Aku lantas menggeleng-gelengkan kepala mengusir pemikiran itu.

"Dia juga menyukai dandelion, entah kenapa ? Dia memang aneh, disaat banyak cewek menyukai mawar dan bunga cantik lainnya, dia malah menyukai dandelion. Sajakku tentangnya adalah tentang dandelion. Tentang sebuah bunga mungil di tepi jalan, yang rapuh dan sangat sederhana. Sangat jarang ada orang yang mampu melihat keindahannya. Ya, jarang" aku meliriknya heran, sebenarnya siapa yang dia bicarakan.

"Dia, yang mendambakan kunjungan ke sebuah ladang bertabur dandelion. Dia yang selalu mengkhayal bisa menemukan ladang itu tepat berdampingan dengan sebuah danau. Dia yang menginginkan kencan ke ladang khayalan itu bersama kekasihnya. Dia yang aneh, aneh sekali"

"Bukkkk"
"Kyaaaaaa, kau kenapa ?" tanyamu emosi karena kupukul dengan gulungan buku.

"Siapa yang kakak bicarakan ? Dia nggak aneh tahu, dia cuma berbeda. Emang apa salahnya suka sama hujan, dandelion dan ladang khayalan itu ?". 

Kau melipat kedua tangan di atas perutmu, menatapku dengan tatapan puas dan senyum yang menyebalkan.
"Kakak pikir kakak nggak lebih waras dari aku ?" aku mengalihkan pandangan karena sebal.

"Hey bodoh !"
"Aww !" kau menjitakku dengan sengaja.
"Kau pikir aku membicarakanmu ?" tanyamu puas. 'Iya ya, mati aku kalau ternyata tebakanku salah'.
"Oh itu, aku cuma nebak aja kok"

"Apa kau menginginkannya ?"
"Apa ?"
"Bahwa kamu adalah cewek yang kakak suka"
'Kenapa wajahku tiba-tiba panas begini ?'
"Bahwa kamu juga cewek yang bisa menggantikan posisi Anita". Kau meraih tangan kananku, meletakkannya di dadamu.

"Disini, kakak merasakan detak itu. Detak yang tidak biasa saat dekat denganmu. Detak yang kakak rasa itu cinta".
Aku larut dalam suasana, hujan tetap mendendangkan senandung romantiknya.

'Beginikah ciuman pertamaku akan dimulai ? My first rain kissing ?'
Aku menutup mataku, lalu tak terasa mulai menangis, merasa bersalah pada Kak Anita. Ya, seharusnya aku tidak merebut siapapun dari kekasihnya. Cinta memang tidak bisa disalahkan, tapi harusnya aku juga bisa mengontrol perasaanku sendiri !

Sepertinya menyadari tangisku, kau memegang kepala dan hanya mencium keningku.

"Maafkan kakak, Far". Lantas kau pergi membelah tirai hujan, meninggalkanku dengan rasa bersalah dan kebingungan. Apa yang bisa kulakukan lagi saat itu selain menangis ? Aku mulai menanyakan alasan Tuhan membuatku jatuh cinta padamu dalam kondisi begini.

Rabu, 01 Juli 2015

Benih Cinta (2a) #6


“Sarah, Sarah, Saraaaaaah” aku bergegas mendengar teriakan itu.
Ternyata Harak mengigau, tubuhnya demam dan berkeringat. Aku mulai panic dan bergegas untuk mengompresnya dengan air hangat.
“Sabar ya Harak, semua akan baik-baik saja” ucapku cemas.
“Sarah, Sarah, aku mohon jangan pergi lagi. Aku kesepian, Sarah, Sarah”. Tiba-tiba tanganku beku, rasanya tidak bisa digerakkan. Apa mungkin cinta Harak pada Sarah memang sebesar itu? Entahlah, rasanya sakit mendengarnya.
“Bi, Bibi!” Aku memanggil seorang asisten rumah tangga untuk menggantikanku merawat Harak. Ya, aku tidak tahan dipanggil sebagai Sarah terus-menerus dalam igauannya.
“Iya non?”
“Kamu tolong urus tuan dengan baik, saya mau siapin mobil dulu”
“Maaf non, kenapa tidak sama Pak Ibnu saja?”
“Gak usah, saya sendiri yang bakal mengantar tuan”. Entah mengapa rasa panas di demamnya menjalar ke tanganku. Sekaligus dengan rasa sakit karena tak pernah dianggap bahkan dalam tidut dan lemahnya sekalipun.

“Jangan pergi”. Sontak aku menoleh pada tangan yang baru saja meraihku, Harak menangis dalam tidurnya.
Aku mencoba melepaskan genggamannya, namun malah semakin kuat.

“Jangan pergi, kumohon jangan pergi”. Aku melirik Bi Tarsih namun dia mengelus dadanya sendiri, menyuruhku untuk bersabar. Ya, Bi Tarsih dan Pak Ibnu sudah seperti orangtua penggantiku. Merekalah yang merawat dan mendengar keluhanku saat ayah dan ibu sibuk mencari penghidupan yang lebih mewah. Mereka juga yang tau jelas kisah cintaku dengan Harak, kisah yang tidak pernah ada awalnya. Kisahku sendiri.

Malam itu aku merawat Harak sampai demamnya benar-benar turun. Ya, aku berhasil. Dia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.
“Semoga aku tidak hadir di mimpimu malam ini” lirihku sepi. Aku meninggalkannya untuk pergi ke kantor. Berangkat lebih awal agar Harak tidak harus melihatku sepagi ini, mungkin itu akan mempercepat penyembuhannya.
*****
"Kriiiiiiiiiiing”, alarm hp-ku berbunyi.
“Harak?” aku kaget bukan main saat melihat pria itu di depanku.
"Ke kenapa kamu disini? Kamu k kan masih sakit" ucapku terbata-bata.
"Cih, apa menurutmu aku masih bisa tidur nyenyak saat semua orang kantor meneleponku untuk menggantikanmu bertemu klien dari Amerika pagi ini?". Kata-kata kasarnya membuatku menepuk dahi.
"Oh iya, aku lupa! Maafkan aku Harak".
"Dan kau dengan santainya tidur di ruang petugas kebersihan setelah semalaman berpesta di club". Aku menggeleng kepala tidak percaya, dari mana dia dengar kabar bohong seperti itu.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Harak".
"Tidak usah, itu mungkin hanya akan menambah rasa benciku padamu". Harak kemudian pergi, dan kata-katanya seperti biasa (berhasil mencolok mataku hingga berair).
Kami pulang bersama karena aku lupa menyimpan kunci mobilku dimana. Perjalanan motor yang menyiksa, suasana malam yang dingin, gelap dan sepi. Bahkan dia dengan percaya dirinya tidak menanyakan mata sembab yang dia buat di wajahku. Aku juga tidak berani memeluknya, hanya menarik sedikit ujung bajunya untuk keseimbangan.
"Kita mau kemana?" tanyaku heran saat Harak menghentikan motornya tiba-tiba. Alunan musik berdetak kencang dari tempat itu, kami berhenti di sebuah bar!
"Aku harus ketemu seseorang sebentar".
"Di tempat seperti ini?" tanyaku menyudutkan.
"Diam saja di luar, aku akan cepat kembali". Harak masuk tanpa menghiraukanku.
Lima belas menit berlalu, dia tak juga kembali. Aku mulai merasa risih dengan dua lelaki bermata keranjang di seberang jalan. Setelah Harak masuk, keduanya keluar dan mulai saling berbisik dan memperhatikanku.
'Harak, kamu dimana?' tanyaku membatin. Kedua pria tadi menghampiriku, "hai cantik, abis pulang ngantor?" tanya pria yang lebih pendek dan brewokan.
"Sombong sekali", ledek pria botak disampingnya setelah kuacuhkan.
"Biarkan, bang. Yang sombong kayak gini emang selalu bikin gemas. Kamu mau masuk, cantik?" tawar pria pendek tadi. Aku turun dari motor Harak, jantungku mulai berdetak ketakutan.
"Pergi kalian!" ucapku lantang.
"Aih, aih. Kamu kok makin cantik ya kalau udah ngomong. Gitu dong sayang. Sini datang ke abang". Si pendek merentangkan tangannya untuk memelukku. Tiba-tiba saja kata-kata mereka berdenging keras. Pandanganku kabur, hingga yang bisa kulakukan hanya terduduk, menangis, dan meminta tolong.
Seseorang datang di waktu yang tepat dan mengusir dua pria hidung itu dengan tinjunya, setidaknya begitu yang kudengar.
"Kamu gak apa-apa, Ge?". Begitu melihat Harak aku langsung memeluknya ketakutan.
"Aku takut, Harak". Tubuh Harak terasa kaku dan tidak membalas pelukanku.
"Aku takut mereka", beberapa saat kemudian Harak mengusap