Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 November 2015

Bara Cinta Shanaya #4


Chapter 4
Payung dan Batu

Aku memperhatikan lukisan di depanku dengan seksama, sepertinya ada banyak hal yang belum kuketahui tentang Bara.
"Belum makan malam kan?" tanya seseorang mengagetkanku. Aku berbalik, Bara!
"Belum, kan tadi ada yang mau ngajak jalan. Kali aja dikasih makan malam juga"
"Hahaha. Berarti emang mau ya diajak jalan?" pertanyaan pria itu lebih terkesan seperti ejekan. Terserah.
"Ya udah, ayo!"
Bara tidak benar-benar mengajakku jalan-jalan dengan ontel. Benar kan? Omong kosong!
Dia melesatkan sebuah Ninja hijau yang dipinjamnya dari Ibu Jawa. Maklum, Bara sama sekali tidak membawa apapun dari Bandung. Mungkin hanya sebuah tas kecil dan baju wartawan yang dipakainya saja.
Pria itu melesatkan motornya membelah Kota Malang yang dingin, entah kemana. Beberapa saat kemudian kami sampai di tempat tujuannya. Sebuah rumah makan panggung dengan gaya bangunan khas Jawa.
Bara melempar senyum kepada wanita yang selanjutnya kuterka adalah pemilik rumah makan itu, aku mengikuti, dan wanita itu membalas senyuman kami.
Kami diantar menuju lantai dua, ke sebuah ruangan khusus yang sepertinya memang dirancang untuk makan malam berdua. Tapi yang aku herankan sejak kapan pria ini menghangat? Apa dia merasa bersalah karena kejadian semalam? Atau angin timur yang kering mencairkan bongkahan-bongkahan es dalam hatinya? Entah.
"Waw, keren!" seruku girang melihat pemandangan yang disajikan restoran panggung ini.
Bara tersenyum menang, "Itu Kota Batu, Nay. Indah kan? Kayak kamu" aku tercengang mendengarnya.
"Ish, kenapa sih kamu?" menjitaknya.
"Aww"
Aku berjinjit memegang dagunya lantas memasang mata jahat."Kesambet apa?".
"Ruh Shanaya", aliran panas mengalir dengan cepat di tubuhku. Tatapan Bara lebih dalam, seperti tatapan yang dia berikan empat tahun lalu saat kami pertama kali bertemu di rumah sakit. Tatapan yang pernah membuatku sangat jatuh cinta.
"Gila!" dengan canggung aku mengalihkan perhatian pada pemandangan tadi.
Aku tidak lagi mendengarkannya, sibuk menumpang dagu dan menggumam salut. Yang aku ingat dari Google, Kota Batu dan Malang memang berdekatan, dan saling melengkapi.
"Kamu tahu gak, Nay?" tanya Bara tiba-tiba.
"Malang sama Bandung punya banyak persamaan".
"Oya?" aku balik bertanya, heran.
"Malang mendapat julukan Kota Bunga dan Bandung Kota Kembang. Malang dan Bandung juga sama-sama terletak di sebuah cekungan purba yang terbentuk di masa lampau". Aku melirik pria itu, tapi dia malah sibuk dengan Kota Batu-nya.
"Terus?"
"Terus mereka juga punya julukan asing yang hampir mirip. Bandung adalah Parijs van Java, sedangkan Malang adalah Parijs van East Java". Kami terdiam sesaat, hening.
"Bara!" dia menoleh. "Maksud aku, terus emang siapa yang nanya? Lagian orang kita lagi di Batu kok, bukan di Malang"
"Ish, ini anak!" celanya kesal.
Makanan yang kami pesan datang, seorang pelayan muda berwajah ayu-lah yang mengantarnya. Dalam hati aku bersyukur karena Bara bukan seorang mata keranjang, mungkin?
Kami melahap makanan itu tanpa suara, beberapa kali aku melirik keluar pintu yang memang dibiarkan terbuka, mencegah pandangan negatif oranglain. Melirik orang-orang di luar yang sedang lesehan dan sesekali terbahak ria.
Oh iya, nama kawasan ini Payung, tempat barisan rapi rumah makan menyuguhkan pemandangan kota saat didekap kelam. Di Bandung juga ada tempat seperti ini, namanya Punclut. Tempat yang cocok untuk memandang Kota Kembang dari ketinggian.
Suasana kota di malam hari ternyata memang sangat menawan. Titik lampu warna-warni terlihat seperti aksesoris mungil yang menghias wajah kota dengan manis.
Sungguh malam di Payung yang indah. Sesekali aku juga melirik Bara, heran. ‘Tidak biasanya orang itu begini’ dan hanya bergumam dalam hati.
Kami mulai membicarakan kenangan-kenangan kami saat mendaki bersama teman-teman pecinta alam lainnya. Pendakian ke Semeru dua tahun lalu, Rinjani setahun lalu, dan pendakian-pendakian sederhana lainnya.
Malam semakin larut, Bara mengajakku pulang. Tanpa sadar aku malah tertidur sepanjang jalan dan melupakan semua pertanyaan tadi siang.
Samar-samar aku membayangkan Payung dan Batu hidup. Dua tempat yang berbeda, si tinggi dan si rendah yang saling mencintai. Batu sejuk karena paru-paru hijau dan air kasih dari Payung, dan Payung ada karena Batu akan indah dipandang dari ketingian. Walau keduanya berkisah tentang Batu, Payung tidak mengeluh kepada Tuhan ataupun berniat ingin pergi. Dia diam, setia, entah bodoh sepertiku.

Bara Cinta Shanaya #3


Chapter 3
Bertemu Ibu Jawa

Bis yang membawa kami melabuhkan dirinya di terminal Kota Malang. Aku menarik nafas panjang, memang sedari tadi ini yang ingin aku lakukan. Keluar dari keheningan!
Jadi selama beberapa jam tadi aku diam seribu bahasa, tidak ingin berbincang sedikit pun dengan Bara. Entah kenapa, rasanya muak sekali dengan sikapnya yang tiba-tiba menciumku tadi sewaktu bis kami masih melanglang di Kota Kembang.
Aku berusaha menggeser pria itu untuk keluar dari tempat duduknya, hingga aku juga bisa keluar dengan mudah. Aku berdiri dan mengambil carrier-ku, kemudian memasangnya kembali dengan kuat.
"Nay, kamu mau kemana?" tanyanya dengan wajah tidak berdosa. Aku memicingkan mataku, menggerutu dalam hati.
"Bukan urusan kamu!" jawabku ketus hendak berlalu, namun Bara menarik bagian belakang carrier dengan seringai khasnya, membuatku hilang keseimbangan dan hampir terjatuh kalau tidak ia tahan.
Aku menatapnya tajam, kesal dan marah.
"Ish, aku gak suka sama tatapan kamu yang ini, Nay" dia menaruh dua jempolnya di atas kelopak mataku. Perlahan, suasana menjadi hening. Ada aliran aneh dalam dadaku, debaran yang tidak menentu. Tiba-tiba jempol Bara bergetar, dia melepaskan kunciannya, lalu suasana menjadi kikuk dan kami salah tingkah.
"Aku udah pesan penginapan yang cocok buat kita. Ayo!" dia merangkul bahuku dengan lengan kanannya. Kuncian lengan kekar itu jelas tidak memberi celah untuk kabur.
Kami turun dari bis dan Bara memanggil seorang supir taksi, pria berkumis tebal itu lantas mengantarkan kami ke tempat yang disebutkan oleh Bara. Sebuah tempat yang dengan fasih dia katakan, lengkap dengan nomor rumah dan warna catnya.
-oo0oo-
Tiga puluh menit berlalu. Pak Agus, nama supir taksi yang aku tahu dari pembicaraannya dengan Bara, memarkirkan taksinya di halaman sebuah rumah tradisional yang nampak anggun dengan cat cokelat dan pekarangannya yang luas.
Setelah membayar, Bara membawa carrier-ku dari bagasi. Kemudian berjalan santai menuju beranda rumah yang terbuat dari kayu itu.
Aku masih terdiam di pekarangannya, memperhatikan tingkah Bara yang slenge’an. Pria berambut ikal itu menaruh carrier di kursi santai milik si pemilik rumah. Sedangkan aku hanya melongo heran saat dia mulai mengetuk pintu dan memanggil seseorang dengan panggilan 'ibu'.
"Iya sebentar" teriak si pemilik rumah dari dalam.
"Nay, sini!" teriak Bara sambil melambaikan tangannya ke arahku. Aku menggelengkan kepala, kemudian pria itu menghampiri dan menarikku ke beranda tadi.
Pintu dibuka, sosok itu lantas terlihat jelas. Seorang wanita Jawa yang anggun berdiri tepat di depan kami, kira-kira usianya sama dengan Mamaku di Bandung.
"Aduh, Nak. Kok kesini gak bilang-bilang ibu dulu" gerutu lembut Ibu Jawa itu dengan logat khasnya.
"Iya bu, sengaja biar kejutan" pria disampingku menyeringai. Aku menatapnya kesal, karena setahuku dia hanya penguntit yang tidak pernah berniat sama sekali untuk pergi ke Malang!
"Ya udah, ayo masuk dulu". Bara lagi-lagi menarik tanganku, mungkin dia pikir aku tidak berhati sampai tega membiarkan Ibu Jawa itu mengoceh sendiri tanpa digubris.
Kami duduk di ruang tamunya, Ibu Jawa lalu pamit ke belakang untuk mengambil minum dan beberapa cemilan. Aku hanya melirik keadaan sekitar. Sampai tiba-tiba mataku terbelalak melihat lukisan seorang bayi laki-laki lucu tengah digendong oleh Ibu Jawa itu. Anehnya, Ibu Jawa itu tidak sendiri tapi berpose dengan seorang pria muda yang nampak familiar, mirip ayahnya Bara.
"Kemarin ibu ke Bandung" Ibu Jawa memulai pembicaraan. Aku melempar senyum kepadanya dengan sedikit merengkuh, khas Indonesia, mungkin.
"Terus ibu ke rumah, niatnya mau nengok kamu. Tapi kata Ratih, kamunya lagi sibuk kerja di Sukabumi. Ya jadinya ibu pulang aja soalnya masih ada urusan di Malang yang belum selesai". Aku seperti mendengar sebuah percakapan berbahasa Prancis, tidak mengerti maksud pembicaraannya. Tapi aku kenal Ibu Ratih, dia ibunya Bara.
"Iya gak apa-apa bu, Bara ngerti kok. Oh iya, gimana sakit ibu? Udah baikan?" tanya Bara cemas.
"Udah baikan kok, Nak. Cuma kata dokter ibu masih harus check-up rutin ke rumah sakit. Nak, cah ayu ini siapa toh?". Kembali, aku tersenyum kepada wanita pemilik mata teduh itu.
"Ini Shanaya, bu. Calon istri Bara" jawabnya santai. Aku menatapnya jahat, bukan so' berakting seperti cerita dalam novel dan drama, tapi aku memang menginjak kakinya, kesal. Dia hanya meringis, tidak berteriak.
"Eng.... Enggak kok bu, Bara bercanda. Saya teman kuliahnya" ucapku membela dengan nada seramah mungkin.
"Iya, temen kuliah sekaligus pacar dan calon suami"
"Iiiiih kamu!" aku menjewer telinga kanannya. Kemudian dia memegang tanganku, menatap lekat.
Beberapa detik kemudian Ibu Jawa itu berdehem, lalu aku memergokinya tengah menertawakan kami. Spontan saja aku garuk-garuk kepala tidak gatal.
"Aku serius" kata-kata itu membuatku bingung. Tiba-tiba saja telingaku berdenging, tak mau dengar.
"Iya, aku serius mau nikahin Shanaya, bu". Ibu Jawa itu menatapku, beberapa saat kemudian sebuah busur senyuman terbingkai manis di wajahnya.
"Ya udah, sekarang kalian istirahat dulu ya". Wanita setengah baya yang kujuluki Ibu Jawa itu mengantarku ke sebuah kamar, yang katanya boleh kutempati selama tinggal di Malang.
"Ini kamar adiknya Bara, namanya Nadia" tiba-tiba saja ibu itu menatapku nanar. Mengelus kepalaku, lantas butiran bening keluar dari mata teduhnya.
"Kata Bara, kamu mirip sama adiknya". Aku hanya menatapnya heran.
'Sejak kapan Bara punya adik?'
'Terus Ibu Jawa ini sebenarnya siapa?'
'Jadi, Ibu Ratih dan Nadia juga siapa?'
Sebenarnya banyak pertanyaan yang ingin aku tanyakan, tapi tidak berani sekarang. Beliau terkesan sangat sedih, aku jadi takut akan memperkeruhnya suasana.
"Yo wes lah, kamu istirahat aja ya, Nak. Pasti capek" dia tersenyum hangat dan aku membalasnya.
Setelah ibu itu pergi, aku mulai merebahkan tubuhku dan mengingat semua kejadian hari ini. Mulai dari kedatangan Bara yang tiba-tiba di ruang tunggu terminal, ciuman itu, Ibu Jawa, lantas sekarang Nadia. Kepalaku semakin pening saja, apalagi mata sembabku yang semalam belum sepenuhnya hilang.
'Jadi, sebenarnya siapa Bara itu?'
Tiba-tiba ponselku bergetar, ada pesan BBM yang masuk.
"Lagi mikirin aku?" , dari layar itu tertulis nama Bara Pratama.
"IYA!!"
"Pasti kangen?"
"Ge-er! Ketemu yuk, ada yang mau aku omongin"
"Tuh kan kangen"
"Nggak ih!"
"Itu pengen ketemu"
"Ya udah gak jadi :P"
"Istirahat aja dulu, nanti malam aku ajak keliling Malang pake ontel"
"Gak niat!"
Percakapan itu berakhir. Senja perlahan memainkan opera manisnya. Semburat oranye merangsek masuk melalui jendela tua di kamar baruku. Hening, hingga akhirnya aku terlelap di pangkuan Sang Kelam.

Bara Cinta Shanaya #2


Chapter 2
 The First Kissing

"Jogja, Jogja"
"Solo-Bandung, Solo-Bandung"
"Kebumen, Kebumen"
"Mojokerto...." beberapa kenek seakan bersahutan menjajakan nama-nama kota yang menjadi trayeknya.
Siang yang terik di Kota Bandung. Matahari seakan membakar kulit manusia tanpa pandang bulu. Tak peduli pria, wanita, atau anak-anak. Mengenakan atasan berlengan pendek atau panjang. Akhir-akhir ini Parisj Van Java memang panas, mungkin pengaruh kemarau yang dibawa angin timur dari Benua Australia yang kering.
Sesekali aku mengipaskan koran yang kubeli beberapa menit lalu. Ya, sebenarnya tujuanku membeli lembaran kertas ini bukan untuk bahan bacaan, tapi untuk mengipasi tubuh yang kegerahan dan dibanjiri keringat. Kebetulan hari ini aku lebih memilih pergi ke Terminal Caheum dan menunggu bis, ketimbang memanaskan mobil pribadi lantas pergi menambah kemacetan beberapa kota besar yang akan kulewati menuju Malang.
Entah apa yang sedang kupikirkan, namun kejadian semalam membuatku muak dengan kota ini. Rasanya ingin beranjak sebentar dan melupakan semuanya.
Tadi malam aku sukses dipermainkan oleh nasib dan perasaan. Opera Tuhan terjadi kepadaku, aku menunggu seseorang dengan bodohnya selama 4,5 jam. Dan saat pria itu datang, aku hanya mampu berkata 'tidak apa' lantas pergi menahan tangis.
Namanya Bara, pria itu. Memang tidak selalu menghadiahkan tawa, malah terlalu banyak memberi kecewa. Namun sayangnya aku sama sekali tidak membenci atau berniat pergi dari hidupnya. Bodoh!
Aku membuka air mineral yang sedari tadi hanya sebagai hiasan carrier. Membiarkannya mengalir secara lembut di kerongkongan yang kering. Aku memejamkan mataku yang sembab karena menangis semalaman, menikmati keriuhan yang terjadi di sekelilingku. Hampa.
-oo0oo-
"Mau kemana?" tanya seorang pria mengagetkan, suara yang kukenal!
"Gak kemana-mana" jawabku ketus tanpa melirik orang itu.
"Kok bawa carrier segala?"
"Mau aja". Kemudian sejenak hening.
"Kok bisa disini?" tanyaku heran.
"Mau aja" jawab pria itu menirukan gaya bicaraku
"Ish, ngapain sih kesini?" aku memukulnya dengan gulungan koran.
Dia meringis, "Ini kan tempat umum, Nay". Sekali lagi aku hendak memukulnya, tapi kemudian dia memegang tanganku, erat.
Dia melirik koran yang kupegang, mengambilnya dengan paksa. Lantas membuka beberapa halaman sampai menemukan yang dia cari.
"Ini yang ngebuat aku telat tadi malam". Dia menunjukkan sebuah artikel yang menjadi headline news. Ada gambar sebuah stalaktit di dalamnya, benda alami yang bergantung di atap gua itu nampak berkilau terkena flash kamera, mungkin. Kemudian judul berita itu ditulis dengan font yang cukup besar, terbaca ‘Menelusuri Pesona Bawah Tanah Kampung Guha Cidolog’.
"Terus?" tanyaku menantang.
"Maaf, Nay". Aku menarik nafas panjang, memejamkan mata dan berusaha tidak peduli.
Hening kembali, lima menit kemudian aku baru sadar apa yang sedang aku tunggu.
"Oh iya, aku pergi ya"
"Kemana?"
"Nonton opera awan" ucapku sembarang. Aku berdiri dan memakai carrier-ku, mengencangkan setiap ikatannya tanpa memperdulikan Bara.
"Malang?" tanya pria itu ragu. Aku hanya menatapnya dingin, tak menjawab kemudian bergegas menuju bis yang kupesan via online. Melewatinya begitu saja.
"Aku ikut" kata-kata itu tidak cukup untuk menghentikan langkahku, toh dia juga tidak punya tiket. Itu pasti hanya omong kosong.
-oo0oo-
Aroma khas air conditioner menyengat ke dalam hidung. Aku memilih duduk di bangku kedua dari belakang, duduk dekat jendela sebelah kanan bis. Memakai headset, memejamkan mata, dan bersenandung pelan mengikuti irama yang menggema di telinga.
"Taylor Swift lagi?" seseorang bertanya dengan mencabut headset dari telinga kiriku. Mataku terbelalak heran, ‘darimana dia mendapatkan tiket dengan mudahnya?’ membatin.
"That was a Fairytale" terkanya setelah merebut headset-ku dan memasang benda itu di telinga kanannya. Walau kesal, aku mencoba masuk dalam permainannya. Terserah.
"Iya, That was a Fairytale. Kayak kita" kataku acuh sambil memejamkan mata lagi.
"Fairytale ya?" tanyanya pada diri sendiri, seakan tak memerlukan jawaban dari siapapun.
Sekitar pukul 13.30 WIB, bis mulai melaju dengan kencang. Membelah jalanan Bandung yang tidak terlalu padat di tengah terik. Kami masih terdiam, berkutat dengan pikiran masing-masing.
Satu jam kemudian aku melepas headset itu. Bara melirik, sebenarnya dari tadi aku sama sekali tidak berniat mendengarkan musik. Hanya mengisi waktu luang di tengah canggung dan lamunan. Lama-kelamaan aku kesal sendiri, apalagi musik yang terakhir adalah lagu yang pernah Bara nyanyian di hari ulang tahunku empat bulan lalu.
"Kenapa ke Semeru?" tanya pria itu memecah keheningan. Pertanyaan yang tepat, aku memang berniat mendaki gunung yang terkenal setelah launching-nya film 5 cm. itu.
"Lagi jenuh sama Bandung" jawabku hambar.
"Sama Bandung?" tanyanya lagi. Aku diam.
"Kenapa gak jenuh sama aku?"
"Aku jenuh, hanya tidak bisa pergi " jawabku datar.
“Kenapa?”
“Tidak tahu, cinta mungkin” jawabku sekenanya.
Bara melepas headset-nya, menatapku yang sibuk memperhatikan wajah jalanan. Bias bayangannya bisa tergambar cukup jelas di kaca di hadapanku, mungkin terpantul oleh cahaya matahari siang yang cukup terang.
"Aku cinta sama kamu, Nay. Tapi cinta itu apa?" aku terbelalak dengan pertanyaannya, sudah satu tahun sejak dia terakhir kali mengucapkan kata itu di depanku. Selama ini dia hanya bilang 'sayang', tidak pernah lagi yang lain, dan itu juga yang membuatku akhir-akhir ini menarik kesimpulan kalau hubungan kami hanyalah cinta sepihak.
Aku menyandarkan kepalaku di punggung kursi, memejamkan mata lelah.
"Cinta itu mengasihi tanpa alasan, mungkin" jawabku datar. Aku tidak mau melihat ekspresi Bara saat mendengarnya, jadi memutuskan untuk tetap menutup mata.
"Lantas kesetiaan itu apa?", pertanyaan selanjutnya. Aku menarik nafas panjang, berusaha tidak menangis.
"Tetap menunggu walau tahu orang yang ditunggu akan telat atau tidak pernah datang sama sekali". Bara diam, tidak ada kata apapun sekitar lima menit.
"Kenapa kamu masih bertahan, Nay?". Aku memegang kepalaku yang tiba-tiba sakit saat menerawang sosok Bara. Membayangkan tawa renyahnya saat kami mendaki Semeru dua tahun lalu. Saat itu kami masih bahagia, dan dia tidak pernah sedingin satu tahun terakhir ini.
"Entahlah, mungkin aku terlalu cinta hingga tidak tahu cara untuk marah karena curiga. Mungkin juga aku terlalu setia hingga tidak tahu cara untuk meninggalkan. Kamu aneh, seperti sebuah puzzle yang tidak pernah bisa kusatukan, karakter yang tidak bisa kutebak. Tapi aku cinta, itu sa__” ucapanku terpotong saat sesuatu mengunci bibirku.
Mataku terbuka, kaget. Pria itu menciumku tiba-tiba, dan ini adalah ciuman kami yang pertama. Selama dua tahun ini aku memang selalu berperan sebagai anak baik, seperti bocah SMA yang lugu dan hanya berpegangan tangan saat pacaran. Tapi ini pencurian! Aku tidak pernah menginginkannya.

Bara Cinta Shanaya #1


Chapter 1
Menangis Saat Hujan

Aku melihat seekor kucing berbulu legam tengah menatap jendela dengan sendu. Mungkin dia juga tengah meresapi senandung dan gertakan hujan dari kaca di hadapannya. Aku tidak melihatnya menangis, hanya diam seribu bahasa. Seperti tengah menunggu sesuatu yang telah lama ia rindukan, sepertiku?
Aku melihat ke dinding atas kafe, jam kodok berwarna hijau muda tengah menjulurkan lidahnya tanda berganti jam. Aku menarik nafas panjang, sudah dua jam menunggu tanpa kepastian. Ingin sekali pergi dan marah karenanya. Tapi entah mengapa, nama dan kenangan bersamanya selalu membuatku terpaku di tempat saat harus menunggunya datang terlambat.
Tapi ini keterlaluan, dia mengacuhkanku selama dua jam tanpa kabar. Bahkan aku tidak yakin akan ada yang sesabar ini menunggu. Eh aku ralat, aku tidak yakin akan ada yang sebodoh ini untuk terus menunggu.
Namanya Bara, dia seorang pria tinggi dengan rambut ikal sebahu dan mata coklat karamel yang indah, kekasihku selama dua tahun ini. Selain kuliah, setahun belakangan dia disibukkan dengan pekerjaannya sebagai penulis dan wartawan lepas di salah satu media cetak terkemuka di Indonesia. Hobi dan tugasnya adalah mengisi rubrik khusus mengenai kegiatan alam bebas. Hidup berpetualang dan selalu lupa pulang. Begitupun arti penantian ini. Aku menunggunya, selalu. Dengan embel-embel makan malam setelah sibuk keluar kota mencari berita.
Bara adalah demisioner ketua adat Pecinta Alam di Universitasku. Berbeda dengan namanya, sosok pria ini sangat dingin dan jarang merajuk manis. Bahkan saat aku marah, dia hanya akan menatapku dengan tajam beserta senyum licik. Lantas mencium keningku dengan segera, semena-mena. Dan aku hanya akan diam serta memaafkannya, seakan mengerti kalau pria itu sedang capek dan tidak ingin berdebat. Bodoh, kan?
Ya, dia selalu memainkan matanya tanpa harus berbasa-basi. Pernah satu ketika aku memergokinya tengah digelayuti manja oleh Siska, rekan wartawannya. Aku sangat marah, membanting pintu kerjanya dan pergi. Kemudian Bara mengerjarku, dan dia hanya berteriak dari kejauhan. Saat itu hujan juga turun dengan deras, jadi teriakannya harus berlomba dengan teriakan hujan yang memekik.
"Shanaya, pergilah jika kamu tidak percaya padaku. Aku tidak akan memaksa", tantangnya datar lalu berbalik. Aku berhenti, entah kenapa kakiku waktu itu malah mengejarnya. Saat itu aku hanya mampu memeluknya lalu menangis. Mencoba mempercayai kesetiaannya. Bara memang pria yang aneh, dan aku lebih aneh lagi karena selalu memaafkannya.
Detik berganti menit, dan menit berlari mengejar jam. Sudah empat jam, pukul 23.00 WIB. Kucing hitam yang kulihat dua jam lalu sudah pergi, mungkin dia tidak sabar menunggu lantas minggat dan mencari pasangan baru. Entahlah.
Aku berkemas, memasukan handphone dan buku catatanku ke dalam tas. Sudah berdiri, namun duduk lagi karena masih ingin menunggunya. Seorang pelayan melihatku dengan tatapan iba, mungkin ia sadar dengan kebodohan yang kulakukan.
Dua puluh menit lagi, 23.20 WIB. Jalanan Bandung nampak sepi. Beberapa pelanggan juga sudah pulang, mungkin merindu selimut dan bantal guling yang terkesan sangat hangat di tengah hujan. Aku menghela nafas panjang, berat menahan marah dan rasa kantuk.
"Neng, sebentar lagi kami akan tutup" pelayan tadi mengagetkanku.
"Oh iya pak, setengah jam lagi ya" pintaku lemas.
"Iya, silahkan".
Aku memandang lagi kaca kafe yang nampak blur tersiram air hujan sepanjang malam. Tak kuasa menahan malu, pada diri sendiri, aku menutup wajah dengan kedua telapak tanganku. Bulir-bulir kecewa menetes pelan, pilu.
"Maaf", aku kenal suara itu. Sebelum dia lebih sadar, aku menghapus air mataku. Memasang wajah tegar, berusaha untuk menenangkan pita suaraku yang biasanya kalau sedang sedih akan bergetar saat dibunyikan. Dan aku tidak mau terlihat cengeng.
Aku melihatnya berdiri tegap di depanku, dengan kamera dan pakaian khas seorang wartawan. Ada tatapan menyesal dari iris cokelat terang itu, tapi aku sangat lelah untuk mengerti.
"Tidak apa" ucapku datar, lantas berusaha tersenyum sekuat hati. Aku mengambil tas tangan di sampingku, lantas pergi melewatinya.
Aku tebak, dia tidak akan pernah mengejarku. Seperti biasa, menunggu hari besok untuk meminta maaf dan menyelesaikan permasalahan. Tapi itu keterlaluan? Memang! Sayangnya aku selalu memaafkannya.
"Shanaya" aku terdiam di mulut pintu saat Bara memanggilku dengan suara tegasnya.
"Pergilah jika kau jenuh dan kecewa, tapi aku benar-benar minta maaf" lanjutnya. Aku berbalik tidak percaya. Kenapa dia selalu menyuruhku pergi? Tidak bisakah berterimakasih karena sudah kutunggu selama beberapa jam!
Aku keluar menantang hujan, tak kuasa berjalan lalu terduduk dan menangis. Sebenarnya aku sangat menyukai hujan, menangis saat hujan tidak akan membuat kita lemah. Karena air hujan akan terlihat sama beningnya dengan air mata.
Aku sangat kecewa kepada Tuhan karena telah membuatku sangat mencintainya. Kepalaku pening dan aku hanya bisa menangis sejadi-jadinya, namun tiba-tiba sebuah payung menaungi dan membuatku kehilangan hujan untuk berteman.
"Jangan berlomba dengan langit, menangislah sendiri" ucap Bara meledek.
Entah apa yang kupikirkan, aku meruntuhkan hati kokoh tadi. Menangis lagi, lebih keras. Tidak peduli pria ini akan mentertawakanku atau tidak.

Rabu, 01 Juli 2015

Boneka Mainan

Rintik hujan terus-menerus menampar permukaan bumi, menyadarkan sang bumi akan ke-khilafannya yang ternyata disaksikan langit sepanjang waktu. Sepi, hanya makian air langit yang terdengar. Sedangkan aku dan dia hanya terdiam seribu bahasa.

Kita berkutat dengan pikiran sendiri, saling menyimpan keluh di dalam batin. Jujur saat itu aku sangat marah hingga tak bisa lagi meneriakkan kemarahanku. Aku kecewa hingga tak bisa lagi menangis saking lelahnya. Bisa-bisanya dia berkencan dengan wanita lain tepat di hari pernikahan kami yang pertama.

Aku jadi membayangkan masa-masa SMA dulu, masa saat hanya akulah yang mengejar dan mencintai. Sedangkan dia, sama sekali tidak melirikku.

Apakah ini sebuah hukuman? Tuhan memberikannya dengan dua syarat yang tidak bisa dibilang ringan. Pertama, dia tidak pernah bisa mencintaiku karena pada intinya pernikahan ini terjadi hanya karena uang. Kedua, aku harus selalu bersabar dengan sikapnya yang selalu berganti wanita di hadapanku. Tapi apa aku tidak berhak untuk marah? Aku juga berhati dan berakal ! Cinta memang kejam, membakar tangan si pemegangnya.

“Kamu marah Ge ?” tanyanya dengan nada terkesan sinis.
“Apa aku harus menegaskannya ? Ini hati, bukan batu” jawabku datar dengan tetap menatap tarian hujan.
“Hhhhh !” terdengar dengus merendahkan keluar dari mulutnya.

“Aku pikir kamu harus mulai ngaca dengan seksama deh Ge. Kok bisa ya kamu gak nyadar kalau hati kamu itu keras atau nggak. Bahkan yang aku tau, hati kamu itu lebih keras dibandingkan sama batu manapun”.
Aku menatapnya tajam, “Cukup Harak ! Jangan mendebatku !”, aku menghardik.

“Oh iya aku lupa, aku kan gak lebih dari sebuah boneka yang kamu beli saat pemiliknya terjepit keadaan”. Teriakan Harak mengingatkanku pada Sarah (kekasih sekaligus istri pertama Harak).
*****
Ya, dia benar ! Aku memang membelinya. Saat itu Sarah menderita kanker serviks stadium lanjut. Sarah tidak pernah menceritakannya kepada Harak, bahkan aku lebih awal tau daripada suaminya itu. Sungguh, rasa cintaku kepada Harak tidak pernah berkurang sedikit pun. Aku bahkan berjuang membuat kehidupan Sarah dan Harak menderita, dengan harapan akhir Harak akan menyerahkan dirinya kepadaku. Namun sepertinya takdir mengenai penyakit Sarah sangat mendukungku.

Akhirnya Harak tau penyakit apa yang tengah menggerogoti raga istrinya. Perlahan-lahan dia mulai menjual saham-saham perusahaannya, menjadi bangkrut dan kehilangan banyak harta benda yang berharga. Tanpa dia tau, akulah yang membeli semua yang telah ia jual. Rupanya kecintaanku kepada Harak telah menjadi ambisi bahkan obsesi. Saat mereka kesusahan, aku datang dengan tujuan menawarkan bantuan. Mereka tidak perlu membayar uang yang telah aku berikan, cukup Harak yang harus membayarnya dengan cara ‘menikahiku’ saja.

Seketika Sarah menangis dan Harak mengusirku dengan makian. Namun kondisi Sarah semakin kritis, dia harus segera mendapat bantuan medis yang lebih serius dan lebih mahal tentunya. Mereka tidak memiliki uang sedikit pun, Harak akhirnya datang menemuiku. Kami menikah, lantas setelah pernikahan kami sah aku baru mentransfer-kan biaya operasi itu ke rekeningnya. Kami tidak langsung bulan madu, dia bahkan tidak menganggapku sebagai mempelai wanitanya. Dia langsung ke rumah sakit sesaat setelah uang itu sampai di rekeningnya. Sarah langsung dioperasi hari itu juga. Tanpa Harak tau, sekeras apa pun hati yang kumiliki. Aku bahkan juga menangis saat resepsi pernikahanku hanya dihadiri oleh satu mempelai. Aku menangisi semua kebodohan dan rasa cintaku kepadanya.

Anak buahku memberi kabar kalau ternyata Sarah tidak mampu bertahan saat operasi itu berlangsung. Dia meninggal. Sejak saat itu Harak hanya berpikir kalau dia adalah boneka mainan yang kusimpan rapi di rumahku. Aku menyuruhnya tidur di sampingku, dia menurut tapi tidak pernah menghadapkan wajahnya kepadaku. Dia bahkan selalu menatapku dengan kejam, seakan jijik dengan semua yang telah kulakukan pada hidupnya.
*****
“Jika kamu pikir aku hanya menganggapmu sebagai boneka maka diamlah selayaknya boneka mainan biasa. Jangan pernah memaki majikan yang telah membelimu karena aku bisa saja menginjak boneka itu hingga rusak dan tidak bisa bergerak lagi”. Harak mungkin tidak akan pernah mengerti rasa sakit ini.

“Sebenarnya aku bahkan jijik sama kamu, Ge. Tapi ini semua tentang janji. Aku gak pernah bisa melanggar perjanjian dengan oranglain, sekalipun dengan orang selicik kamu. Sekarang permainan apalagi yang ingin kamu mainkan ?” tanya Harak dengan nada mencela, sama seperti biasa.

‘Mau apalagi ? Aku hanya mau ampunan kamu, Harak” batinku.
“Antar aku pulang, aku capek”. Dia mengikuti apa yang kusuruh, mobil yang ia kendalikan melesat membelah tirai hujan dengan sadis. Kami pulang ke sangkar emas yang kuciptakan untuk memeliharanya. Memelihara ? Andai dia tau kalau aku tidak pernah berniat seperti itu. Tapi apa daya, cinta ini telah membungkus rasioku dengan sangat apik.