Sabtu, 30 April 2016
Anak Kecil yang Kekanak-kanakan
Caci saja aku yang tidak tahu malu ini, caci saja anak kecil yang sedang belajar cinta pada raksasa merah jambu ini. Caci saja, aku juga tidak akan peduli.
Hei kau yang barusan kudengar lagi cela sikapnya. Aku bisa apa jika rasa rindu kepadamu ternyata lebih besar dari rasa benciku. Aku bisa apa selain harus menyerah menjadi pecundang lugu tak berasio.
Ah sial, mereka benar. Aku anak kecil yang kekanak-kanakan.
Menghadapi Para Penggosip
Vonis baik atau buruk yang diberikan oleh orang-orang terhadap kita, merupakan interpretasi dari apa yang mereka tangkap secara audio dan visual terhadap semua kelakukan kita. Mereka tidak melihat niat atau latar belakang, mereka melihat aksi. dan hal itu yang jelas-jelas selalu mengakibatkan kesalahpahaman.
Kita masih bisa hidup tanpa dukungan dari mereka, memang. Tapi tidak akan ada hidup tenang jika kita masih berada di bawah bayangan skeptisme memuakkan yang telah mereka ciptakan.
Lalu kita harus apa?
Selama masih bisa memperbaiki imej kita di hadapan mereka, menurutku ya kita berarti memiliki kewajiban untuk menjelaskan. Carilah wakktu yang tepat untuk bicara, dari hati ke hati. Jangan satu lawan banyakan, nanti kamu dikeroyok. Kamu dekati saja satu per satu, dengan pendekatan yang sangat halus sampai mereka tidak sadar kalau kamu memiliki misi khusus.
Penjelasan yang baik akan memperbaiki hubungan. Sedikit demi sedikit, walau lama tapi setidaknya kamu memiliki niat yang baik untuk melepaskan seseorang dari prasangka buruk dan dosa-dosa yang akan muncul selanjutnya.
Selamat mencoba :)
Jumat, 29 April 2016
Bunga Putih
Dia yang disukai oleh salah satu saudaraku! Dia yang ternyata lebih beruntung dari ratu katak, dia yang meratui hati si dingin.
Ah ternyata tidak hanya saudaraku, saudaranya dan saudara mereka juga suka. Beruntung....
(Tapi kamu jangan percaya, aku juga tidak yakin)
(Tapi kamu jangan percaya, aku juga tidak yakin)
Rabu, 27 April 2016
Surat Cinta untuk Suamiku
Selamat malam, walau ini terlalu malam.
Selamat pagi, walau juga terlalu pagi.
Salam kenal, namaku aku, yang merindukan kehadiranmu semenjak lama. Aku yang sedang berselancar di dunia maya, dan berharap bisa memberi sedikit manfaat kepada umat manusia kebanyakan. Aku yang penuh dosa dan masih didekap erat oleh rasa malas dan keborosan. Aku yang kotor karena senantiasa terjerumus pada kesalahan yang sama.
Kau peneduh jiwa,
Maafkan kelancanganku yang tengah berpikir keras ini, mungkinkah suatu hari nanti kita akan sama-sama terjaga di sepertiga malam dan memujanya dengan shalawat yang senada?
Mungkinkah waktu seperti ini juga yang akan kita jadikan saat yang tepat untuk sama-sama memadu kasih dengan-Nya?
Semoga, semoga Allah mengijinkanku mendapatkan sosok berhati bersih seperti itu. Atau setidaknya semoga Dia meridhoi kita untuk berjalan beriringan dalam berhijrah. Semoga.
Kau peneduh jiwa,
Tolong ampuni aku dan semua masa laluku. Ampuni aku yang pernah mencintai pria lain.
Ampuni pula, barangkali esok malah berpuisi kepada pria itu.
Surat untuk Anakku
(mungkin efek nonton youtube soal bayi :)
Teruntuk anakku sayang, yang mungkin akan membaca surat kecil ini dari masa depan.
Kamu sedang apa saat ini nak? Apa sedang menyaksikan kelakuan ibumu dari alam ruh sana? Maaf, kau pasti kecewa karena melihat semua kemalasanku dalam menjalani hidup. Aku memang belum menjadi sosok manusia baik yang bisa kau ikuti semua caranya dalam menjalani hidup. Aku bahkan masih sangat kotor untuk saat ini, nak.
Nak, aku punya sebuah cerita untukmu. Tentang seorang pria yang pernah singgah di kehidupanku sebagai seorang pujangga tanggung. Tidak berpuisi dengan kata, tapi dengan sikap.
Nak, tapi sayangnya aku juga tengah terjatuh. Karena pujangga tanggung itu, eh bukan! Karena diriku sendiri....
Nak, jika kau seorang lelaki, maka jadilah pria. Yang melindungi hati wanita seperti kau akan melindungi hati ibumu sendiri, Jangan buat mereka sakit hanya karena salah menafsirkan segala tindak tandukmu. Tundukkanlah pandanganmu, biarkan hanya Allah yang menjadi pemandangan wajibmu untuk setiap harinya. Sucikanlah dirimu setiap hari dengan belajar ikhlas dan memohon ampun.
Namun jika kau seorang perempuan, maka jadilah wanita. Yang juga suci hatinya, yang tidak meliarkan dirinya di padang perzinahan (sekecil apapun itu). Nak, jangan juga jadi manusia yang rapuh hatinya, sehingga sangat mudah mencinta dan menjadi pecinta. Jangan nak, tetaplah jaga pandangan dan hatimu hanya untuk satu orang yang telah Allah siapkan dalam Lauhul Mahfudz kehidupanmu.
Anakku, pun jadilah manusia yang ikhlas dan selalu berpikiran positif, jangan terjangkiti virus patologi sosial. Nanti kamu sakit sendiri.
Nak, jangan melihat orang dari satu sisi lantas memvonisnya begitu saja tanpa pertimbangan yang matang.
Jangan merasa tersakiti, nanti senang mengghibah.
Jangan merasa dikhianati, nanti membenci.
Jangan merasa gadis, nanti mudah jatuh cinta.
Bacalah ini dengan lisan dan hatimu, nak.
Entah kapanpun itu.
Salam perkenalan, dari ibumu yang sedang menemani kakaknya main CS :D
26 April 2016, 02.26 WIB.
.... dan pesan yang tidak terucap pagi ini, "hati-hati di jalan, kak".
Senin, 25 April 2016
Jumat, 22 April 2016
Gadis dengan Pipi Merona
Sini kuceritakan tentang sebuah kisah, mengenai gadis cantik nan riang berpipi merona. Namanya dia, yang senang bergurau dan polos.
Dia yang mencintai pria yang ternyata malah sedang mencintai oranglain juga.
Dia yang tidak bisa kuceritakan tentang semua itu.
Dia yang tidak bisa kuceritakan tentang semua itu.
Iya, dia.
Dia yang memiliki harapan untuk kembali. Ah iya, sini kuberitahu. Sebenarnya pria itu adalah mantan pujaan hatinya, mereka berpisah beberapa waktu lalu karena satu hal yang tidak bisa aku mengerti.
Kemudian dia memang selalu memiliki harapan untuk kembali.
Dia yang selalu merasa senang ketika ada di dekat pria itu, tapi si pria tidak.
Dia yang selalu merasa senang ketika ada di dekat pria itu, tapi si pria tidak.
Dan jahatnya, aku tau siapa wanita yang sedang diinginkan oleh si pria. Dan teganya, aku terpaksa mendengar rahasia kedua orang itu.
Iya, dia.
Dia yang sangat ingin kuceritakan tentang semuanya, tapi tidak mungkin.
(Maafkan ketidakjelasan tulisan ini, aku sedang kacau)
Tidak Berguna.
Terkadang aku merasa sangat ingin membencimu, tapi tak pernah bisa.
Kau bagai racun yang sudah kepalang mengendap di sela-sela otakku.
Menanamkan kepercayaan yang terlampau besar hingga aku lemah.
Kau bagai racun yang sudah kepalang mengendap di sela-sela otakku.
Menanamkan kepercayaan yang terlampau besar hingga aku lemah.
Tapi tenang, aku tidak akan lagi sebodoh kemarin, tidak akan lagi kutunjukkan semuanya di depanmu.
Tidak berguna.
Tidak berguna.
Langganan:
Postingan (Atom)




