Rabu, 15 Juli 2015

Realita Hidup

Caci maki saja diriku
Jika itu bisa membuatmu kembali ke masa indah yang tak bisa dilupakan
Terlalu cepat ditinggalkan, sulit kubayangkan
Kalaulah memang kau lupakan segala yang telah terjadi
Bagiku pengorbanan dalam cinta adalah segala-galanya
Bagai penghargaan yang tak dapat dihitung nilainya
Sungguh aku mengharap kata darimu
Bukan janji-janji indah yang dapat menghancurkan hidupku
Bahkan masa depanku yang hampir saja hilang
Lenyap ditelan perubahan zaman

(TDS)

Siasat Cinta

Bila hati ini mulai bicara
Mulut tak perlu berkata
Bila jiwa telah melihat
Mata tak perlu melirik
Hasrat hati pada yang lain
Apa daya tali mengikat
Sungguh suatu kehormatan
Apabila orang yang dicintai memperhatikan
Tapi sungguh kesialan
Apabila si jantung hati tak mau peduli

(TDS)

Rabu, 01 Juli 2015

Benih Cinta (2a) #6


“Sarah, Sarah, Saraaaaaah” aku bergegas mendengar teriakan itu.
Ternyata Harak mengigau, tubuhnya demam dan berkeringat. Aku mulai panic dan bergegas untuk mengompresnya dengan air hangat.
“Sabar ya Harak, semua akan baik-baik saja” ucapku cemas.
“Sarah, Sarah, aku mohon jangan pergi lagi. Aku kesepian, Sarah, Sarah”. Tiba-tiba tanganku beku, rasanya tidak bisa digerakkan. Apa mungkin cinta Harak pada Sarah memang sebesar itu? Entahlah, rasanya sakit mendengarnya.
“Bi, Bibi!” Aku memanggil seorang asisten rumah tangga untuk menggantikanku merawat Harak. Ya, aku tidak tahan dipanggil sebagai Sarah terus-menerus dalam igauannya.
“Iya non?”
“Kamu tolong urus tuan dengan baik, saya mau siapin mobil dulu”
“Maaf non, kenapa tidak sama Pak Ibnu saja?”
“Gak usah, saya sendiri yang bakal mengantar tuan”. Entah mengapa rasa panas di demamnya menjalar ke tanganku. Sekaligus dengan rasa sakit karena tak pernah dianggap bahkan dalam tidut dan lemahnya sekalipun.

“Jangan pergi”. Sontak aku menoleh pada tangan yang baru saja meraihku, Harak menangis dalam tidurnya.
Aku mencoba melepaskan genggamannya, namun malah semakin kuat.

“Jangan pergi, kumohon jangan pergi”. Aku melirik Bi Tarsih namun dia mengelus dadanya sendiri, menyuruhku untuk bersabar. Ya, Bi Tarsih dan Pak Ibnu sudah seperti orangtua penggantiku. Merekalah yang merawat dan mendengar keluhanku saat ayah dan ibu sibuk mencari penghidupan yang lebih mewah. Mereka juga yang tau jelas kisah cintaku dengan Harak, kisah yang tidak pernah ada awalnya. Kisahku sendiri.

Malam itu aku merawat Harak sampai demamnya benar-benar turun. Ya, aku berhasil. Dia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak.
“Semoga aku tidak hadir di mimpimu malam ini” lirihku sepi. Aku meninggalkannya untuk pergi ke kantor. Berangkat lebih awal agar Harak tidak harus melihatku sepagi ini, mungkin itu akan mempercepat penyembuhannya.
*****
"Kriiiiiiiiiiing”, alarm hp-ku berbunyi.
“Harak?” aku kaget bukan main saat melihat pria itu di depanku.
"Ke kenapa kamu disini? Kamu k kan masih sakit" ucapku terbata-bata.
"Cih, apa menurutmu aku masih bisa tidur nyenyak saat semua orang kantor meneleponku untuk menggantikanmu bertemu klien dari Amerika pagi ini?". Kata-kata kasarnya membuatku menepuk dahi.
"Oh iya, aku lupa! Maafkan aku Harak".
"Dan kau dengan santainya tidur di ruang petugas kebersihan setelah semalaman berpesta di club". Aku menggeleng kepala tidak percaya, dari mana dia dengar kabar bohong seperti itu.
"Aku bisa jelaskan semuanya, Harak".
"Tidak usah, itu mungkin hanya akan menambah rasa benciku padamu". Harak kemudian pergi, dan kata-katanya seperti biasa (berhasil mencolok mataku hingga berair).
Kami pulang bersama karena aku lupa menyimpan kunci mobilku dimana. Perjalanan motor yang menyiksa, suasana malam yang dingin, gelap dan sepi. Bahkan dia dengan percaya dirinya tidak menanyakan mata sembab yang dia buat di wajahku. Aku juga tidak berani memeluknya, hanya menarik sedikit ujung bajunya untuk keseimbangan.
"Kita mau kemana?" tanyaku heran saat Harak menghentikan motornya tiba-tiba. Alunan musik berdetak kencang dari tempat itu, kami berhenti di sebuah bar!
"Aku harus ketemu seseorang sebentar".
"Di tempat seperti ini?" tanyaku menyudutkan.
"Diam saja di luar, aku akan cepat kembali". Harak masuk tanpa menghiraukanku.
Lima belas menit berlalu, dia tak juga kembali. Aku mulai merasa risih dengan dua lelaki bermata keranjang di seberang jalan. Setelah Harak masuk, keduanya keluar dan mulai saling berbisik dan memperhatikanku.
'Harak, kamu dimana?' tanyaku membatin. Kedua pria tadi menghampiriku, "hai cantik, abis pulang ngantor?" tanya pria yang lebih pendek dan brewokan.
"Sombong sekali", ledek pria botak disampingnya setelah kuacuhkan.
"Biarkan, bang. Yang sombong kayak gini emang selalu bikin gemas. Kamu mau masuk, cantik?" tawar pria pendek tadi. Aku turun dari motor Harak, jantungku mulai berdetak ketakutan.
"Pergi kalian!" ucapku lantang.
"Aih, aih. Kamu kok makin cantik ya kalau udah ngomong. Gitu dong sayang. Sini datang ke abang". Si pendek merentangkan tangannya untuk memelukku. Tiba-tiba saja kata-kata mereka berdenging keras. Pandanganku kabur, hingga yang bisa kulakukan hanya terduduk, menangis, dan meminta tolong.
Seseorang datang di waktu yang tepat dan mengusir dua pria hidung itu dengan tinjunya, setidaknya begitu yang kudengar.
"Kamu gak apa-apa, Ge?". Begitu melihat Harak aku langsung memeluknya ketakutan.
"Aku takut, Harak". Tubuh Harak terasa kaku dan tidak membalas pelukanku.
"Aku takut mereka", beberapa saat kemudian Harak mengusap

Boneka Mainan

Rintik hujan terus-menerus menampar permukaan bumi, menyadarkan sang bumi akan ke-khilafannya yang ternyata disaksikan langit sepanjang waktu. Sepi, hanya makian air langit yang terdengar. Sedangkan aku dan dia hanya terdiam seribu bahasa.

Kita berkutat dengan pikiran sendiri, saling menyimpan keluh di dalam batin. Jujur saat itu aku sangat marah hingga tak bisa lagi meneriakkan kemarahanku. Aku kecewa hingga tak bisa lagi menangis saking lelahnya. Bisa-bisanya dia berkencan dengan wanita lain tepat di hari pernikahan kami yang pertama.

Aku jadi membayangkan masa-masa SMA dulu, masa saat hanya akulah yang mengejar dan mencintai. Sedangkan dia, sama sekali tidak melirikku.

Apakah ini sebuah hukuman? Tuhan memberikannya dengan dua syarat yang tidak bisa dibilang ringan. Pertama, dia tidak pernah bisa mencintaiku karena pada intinya pernikahan ini terjadi hanya karena uang. Kedua, aku harus selalu bersabar dengan sikapnya yang selalu berganti wanita di hadapanku. Tapi apa aku tidak berhak untuk marah? Aku juga berhati dan berakal ! Cinta memang kejam, membakar tangan si pemegangnya.

“Kamu marah Ge ?” tanyanya dengan nada terkesan sinis.
“Apa aku harus menegaskannya ? Ini hati, bukan batu” jawabku datar dengan tetap menatap tarian hujan.
“Hhhhh !” terdengar dengus merendahkan keluar dari mulutnya.

“Aku pikir kamu harus mulai ngaca dengan seksama deh Ge. Kok bisa ya kamu gak nyadar kalau hati kamu itu keras atau nggak. Bahkan yang aku tau, hati kamu itu lebih keras dibandingkan sama batu manapun”.
Aku menatapnya tajam, “Cukup Harak ! Jangan mendebatku !”, aku menghardik.

“Oh iya aku lupa, aku kan gak lebih dari sebuah boneka yang kamu beli saat pemiliknya terjepit keadaan”. Teriakan Harak mengingatkanku pada Sarah (kekasih sekaligus istri pertama Harak).
*****
Ya, dia benar ! Aku memang membelinya. Saat itu Sarah menderita kanker serviks stadium lanjut. Sarah tidak pernah menceritakannya kepada Harak, bahkan aku lebih awal tau daripada suaminya itu. Sungguh, rasa cintaku kepada Harak tidak pernah berkurang sedikit pun. Aku bahkan berjuang membuat kehidupan Sarah dan Harak menderita, dengan harapan akhir Harak akan menyerahkan dirinya kepadaku. Namun sepertinya takdir mengenai penyakit Sarah sangat mendukungku.

Akhirnya Harak tau penyakit apa yang tengah menggerogoti raga istrinya. Perlahan-lahan dia mulai menjual saham-saham perusahaannya, menjadi bangkrut dan kehilangan banyak harta benda yang berharga. Tanpa dia tau, akulah yang membeli semua yang telah ia jual. Rupanya kecintaanku kepada Harak telah menjadi ambisi bahkan obsesi. Saat mereka kesusahan, aku datang dengan tujuan menawarkan bantuan. Mereka tidak perlu membayar uang yang telah aku berikan, cukup Harak yang harus membayarnya dengan cara ‘menikahiku’ saja.

Seketika Sarah menangis dan Harak mengusirku dengan makian. Namun kondisi Sarah semakin kritis, dia harus segera mendapat bantuan medis yang lebih serius dan lebih mahal tentunya. Mereka tidak memiliki uang sedikit pun, Harak akhirnya datang menemuiku. Kami menikah, lantas setelah pernikahan kami sah aku baru mentransfer-kan biaya operasi itu ke rekeningnya. Kami tidak langsung bulan madu, dia bahkan tidak menganggapku sebagai mempelai wanitanya. Dia langsung ke rumah sakit sesaat setelah uang itu sampai di rekeningnya. Sarah langsung dioperasi hari itu juga. Tanpa Harak tau, sekeras apa pun hati yang kumiliki. Aku bahkan juga menangis saat resepsi pernikahanku hanya dihadiri oleh satu mempelai. Aku menangisi semua kebodohan dan rasa cintaku kepadanya.

Anak buahku memberi kabar kalau ternyata Sarah tidak mampu bertahan saat operasi itu berlangsung. Dia meninggal. Sejak saat itu Harak hanya berpikir kalau dia adalah boneka mainan yang kusimpan rapi di rumahku. Aku menyuruhnya tidur di sampingku, dia menurut tapi tidak pernah menghadapkan wajahnya kepadaku. Dia bahkan selalu menatapku dengan kejam, seakan jijik dengan semua yang telah kulakukan pada hidupnya.
*****
“Jika kamu pikir aku hanya menganggapmu sebagai boneka maka diamlah selayaknya boneka mainan biasa. Jangan pernah memaki majikan yang telah membelimu karena aku bisa saja menginjak boneka itu hingga rusak dan tidak bisa bergerak lagi”. Harak mungkin tidak akan pernah mengerti rasa sakit ini.

“Sebenarnya aku bahkan jijik sama kamu, Ge. Tapi ini semua tentang janji. Aku gak pernah bisa melanggar perjanjian dengan oranglain, sekalipun dengan orang selicik kamu. Sekarang permainan apalagi yang ingin kamu mainkan ?” tanya Harak dengan nada mencela, sama seperti biasa.

‘Mau apalagi ? Aku hanya mau ampunan kamu, Harak” batinku.
“Antar aku pulang, aku capek”. Dia mengikuti apa yang kusuruh, mobil yang ia kendalikan melesat membelah tirai hujan dengan sadis. Kami pulang ke sangkar emas yang kuciptakan untuk memeliharanya. Memelihara ? Andai dia tau kalau aku tidak pernah berniat seperti itu. Tapi apa daya, cinta ini telah membungkus rasioku dengan sangat apik.

Rabu, 24 Juni 2015

12 September 2003

Alunan suara takbir berkumandang
Seiring petasan menggema bersahutan
Memaksa diriku hanyut dalam khayal
Terbias senyummu di akhir perjumpaan
Senyuman yang manis selalu penuh dendam
Ketika kau tahu diriku ditunangkan
Kecupan yang terakhir penuh rasa haru
Seakan kemarin kau masih di sampingku
Tak kuasa kumelawan kehendak ayah dan bunda
Akhirnya kuterperangkap dalam duka
Airmataku berlinang, dikala rinduku padamu kan datang
Tiada pernah kumiliki rasa rindu serta cinta
Selain rindu dan cintaku padamu
Datanglah kasih sejenak walau di dalam tidurku
Cukuplah sebagai pengobat rinduku

(TDS)

Senin, 22 Juni 2015

Geotrek

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting penentu masa depannya. Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 (1), pendidikan adalah: “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”. 

Di balik definisi tersebut, pada intinya pemerintah dan masyarakat pastilah menginginkan terjalankannya suatu sistem pendidikan yang baik, sehingga akhirnya juga menghasilkan output yang baik pula. Namun pada prosesnya, seringkali pendidikan justru menjadi suatu hal yang dibenci dan dijauhi oleh anak-anak. Setidaknya sampai ini, pendidikan masih saja lekat dengan kesan membosankan, membingungkan, dan teoritis

Menurut Muhibbin Syah (2010: 129) ada tiga faktor yang akan mempengaruhi proses belajar peserta didik, yaitu faktor internal, faktor eksternal, dan faktor pendekatan belajar (approach to learning). Tidak jarang faktor tersebut datang secara bersamaan dalam bentuk negatif dan berdampak pada penurunan mood belajar peserta didik. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan beberapa metode belajar yang lebih modern dan efektif. Salah satu diantaranya adalah diterapkannya metode PAKEM atau pembelajaran yang menekankan suasana kelas yang aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan. Saat metode ini diterapkan, posisi pendidik dan peserta didik tidak akan saling kaku dan pasif, kelas akan menjadi lebih hidup dan iklimnya akan membaik. Hingga hasil akhirnya adalah tercetaknya generasi terdidik yang aktif dan bahagia di dalam dunia akademis yang akan mereka jalani bertahun-tahun lamanya. 

Sedangkan pengertian geografi menurut Prof. Bintarto adalah ilmu yang mempelajari tentang hubungan kausal gejala-gejala di permukaan bumi, baik yang bersifat fisik maupun yang menyangkut kehidupan makhluk hidup serta permasalahannya melalui pendekatan keruangan, kelingkungan, dan regional untuk kepentingan program, proses dan keberhasilan pembangunan. Dalam memahami mata pelajaran Geografi, peserta didik diharuskan memiliki pengetahuan keruangan yang cukup kuat, hal itu dikarenakan objek yang dipelajari oleh bidang ini adalah fenomena geosfera, yang mencakup lapisan tanah (lithosfer), lapisan udara (atmosfer), lapisan makhluk hidup (biosfer), lapisan air (hidrosfer) serta lapisan manusia (antroposfer). Kuantitas materi yang banyak dan abstrak membuat mata pelajaran ini terkesan  tidak menarik dan sulit dipahami. Hal itu bisa semakin diperparah jika guru yang mengajarkannya monoton, teoritis, dan tidak memiliki media pembelajaran yang cukup. 

Geotrek merupakan salah satu cara untuk mengatasi masalah pembelajaran membosankan yang dilekatkan pada Mata Pelajaran Geografi. Geotrek secara bahasa berasal dari kata geo (bumi) trekking (berjalan-jalan), atau istilah lainnya adalah suatu kegiatan alam bebas yang bertujuan untuk mengamati keanekaragaman di bumi melalui jalan-jalan santai dan menyenangkan. 

Geotrek memang belum se-kekinian kegiatan flying fox, namun para pelopornya masih tetap berusaha untuk memperkenalkannya kepada masyarakat Indonesia secara lebih luas. Salah satu pelopor tersebut adalah Titi Bachtiar, seorang alumnus Pendidikan Geografi IKIP Bandung. Beliau aktif sebagai anggota Masyarakat Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung (KRCB), bersama teman-temannya beliau memperkenalkan geotrek sebagai salah satu upaya mengatasi kejenuhan dalam mempelajari geografi. Bukan hanya mengunjungi dan melihat keindahan suatu tempat, tapi geotrek juga berfungsi untuk mengenali suatu tempat dari sudut pandang geografinya. Misalnya saja geotrek mengunjungi Pantai Sawarna yang terletak di perbatasan Kabupaten Sukabumi dan Banten, selain mendapatkan suguhan pemandangan yang luar biasa indah, para peserta geotrek juga bisa mempelajari bagaimana pantai itu bisa terbentuk, batuan apa yang menyusunnya dan apa dampak adanya pantai tersebut bagi penduduk di sekitarnya. Contoh lainnya adalah perjalanan geotrek ke Gunung Tambora, selain keindahan alamnya, peserta geotrek juga bisa dikenalkan mengenai deskripsi fisik Gunung Tambora dan sejarah letusan dahsyatnya 200 tahun yang lalu. 

Dalam lingkup yang lebih luas, aktivitas geotrek juga bisa dipakai sebagai metode untuk mengaplikasikan butir pertama Sumpah Pemuda, yang berbunyi “Kami putra dan putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia”. Sumpah itu secara jelas menggambarkan betapa pentingnya kita mempelajari dan mendalami ilmu geografi. Walaupun bukan sebagai seorang ahli, setidaknya kita bisa mengenali alam Indonesia dan menjaganya agar tidak direbut Negara tetangga. Disinilah akhirnya terlihat bahwa geotrek juga mampu menjadi salah satu alat sebagai penguat geostrategi politik Republik Indonesia. Menurut Dr. ganjar M. Ganeswara, M. Pd (2013: 159), geostrategi merupakan suatu strategi dalam memanfaatkan suatu konstelasi geografi Negara dalam menentukan kebijakan dan sarana-sarana untuk mencapai tujuan nasional.
Metode PAKEM dalam geotrek bisa diamati dari karakteristik tercapainya empat indikator dengan baik, yakni indikator mengalami, komunikasi, interaksi dan refleksi. 

Dalam metode PAKEM, peserta didik diharuskan mengalami materi belajar secara langsung. Hal itu sangat baik demi meningkatkan pemahamannya terhadap materi tersebut, cara mengalami yang baik itu bisa diwujudkan dengan pengamatan, percobaan, penyidikan dan wawancara. Karena geotrek merupakan aktivitas yang membutuhkan panca indera secara langsung, maka aspek mengalami ini bisa terkesan lebih mendalam karena terwujud melalui pengalaman berkunjung ke suatu tempat. 

Setelah melakukan geotrek ke suatu tempat, peserta didik juga akan mampu mengkomunikasikan hasil pengamatannya, baik berupa mengemukakan pendapat, presentasi laporan, pemajangan hasil kerja, ataupun ungkap gagasan. Semua aktivitas tersebut akan lebih menarik karena peserta didik mengalaminya secara langsung, sehingga bahasannya akan tersampaikan dengan cukup baik dan antusiasme yang tinggi dari pembicara. 

Interaksi dalam geotrek terwujud melalui diskusi dan tanya jawab mengenai tempat yang telah dikunjungi. Misalnya setelah melakukan geotrek ke Gunung Tambora, pendidik bisa saja melakukan diskusi dan tanya jawab di kelasnya mengenai letusan Tambora pada 11 s.d 12 April 1815 dan bagaiman dampaknya terhadap kehidupan manusia kala itu, serta bagaimana keadaannya saat ini. 

Kepekaan peserta didik terhadap daerah yang dikunjunginya bisa saja didapat dengan kegiatan refleksi, mereka bisa mengemukakan apa saja kekurangan dan kelebihan tempat yang mereka kunjungi. Selain sebagai metode mengembangkan pemikiran yang kritis, hal ini juga dimaksudkan agar peserta didik bisa mengenali Indonesia dari hal yang terkecil sekalipun. Refleksi ini mampu mencetak generasi yang visioner and planner. 

Potensi pengembangan geotrek memang cukup menjanjikan, animo masyarakat terhadapnya juga sangat baik. Sangatlah pantas jika animo itu ditanggapi oleh pemerintah dengan anjuran tersurat agar geotrek dimasukan ke dalam metode pembelajaran Mata Pelajaran Geografi. Selain membuat pembelajaran lebih menarik karena mengandung unsur PAKEM yang menekankan pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, geotrek juga mampu meningkatkan jiwa nasionalisme peserta didik. Sudah selayaknya anak-anak kita mengenali Negaranya terlebih dahulu, agar mereka memiliki kecintaan terhadap bangsanya sendiri di era globalisasi yang menghilangkan sekat-sekat dunia ini. 

Tadaaaa, tumben banget ini tangan bisa ngetik serius -,-‘

14 Juni 2015, 20:37 WIB

Dear kekasih yang terindukan, aku baru saja melihat satu kisah cinta yang mengharukan lagi. Kisah yang diawali dari pertemuan yang begitu sederhana, kisah Asma dan Zhong Wen.
Kekasih yang terindukan, sampai saat ini aku masih hidup seperti biasa. Ya, rasanya aku cukup jauh untuk menggapai inang rusuk yang bercahaya. Tapi aku yakin Allah akan memberikanku sebuah kesempatan untuk itu.

Kekasih yang terindukan, aku memang tidak sesuci apa yang digambarkan dalam novel-novel religi. Aku bahkan masih senang menyentuh telapak tangan laki-laki lain saat bersalaman. Ah, maafkan aku. Tapi aku juga memiliki hati yang mendamba kesucian itu. Ya, aku sangat mendambanya.

Tak peduli seberapa jauh aku melangkah, seberapa lama aku akan menunggu. Kekasihku yang baik mungkin akan selalu kubayangkan, menjadi sebuah pertanyaan yang tek pernah ada jawabnya. Mari mendaki bersama, ajak aku ke tempat yang tidak biasa. Dimana aku bisa melihat tarian awan dari dekat, menggenggam tangan yang memang telah halal untuk kupegang erat. Memiliki bahu yang hanya tersedia untuk segala keluh dan kesah bersama.

Hidupku begini, hanya ini yang aku mampu. Bersuara dalam hening, mengangin hingga terbuai alunan cinta yang samar-samar. Kau adalah sumber kekuatan hidupku, walau namamu belum kukenal dengan jelas. Siapa kamu? Aku tak tahu. Dimana kau berada? Aku pun tak pernah tahu. Hanya satu yang kuyakini, aku merindukanmu. Tolong ajak aku ke surga itu dengan keimanan.

14 Juni 2015, 20:51 WIB

“Hei, apa kabar?”
"Nama kamu siapa?”
“Tempat tinggal kamu dimana?”
“Oh iya, agama kamu apa?”
"Hobi kamu?”
"Kapan kita ketemu?”
“Kamu telah terlahir atau masih di alam ruh?

Ya, itu adalah beberapa pertanyaan yang ingin segera kutahu jawabannya. Aku bahkan masih penasaran, akan kah penanntian cinta sejati ini lebih lama dari biasanya? 

Aku pernah mendengar satu cerita, kalau cinta sejati kita mungkin saja bukan manusia yang saat ini telah terlahir. Karena bisa saja Allah menyiapkan cinta sejati kita dari alam ruh. Yang masih suci hatinya, dan hanya tercipta untuk menjadi inang kita sampai waktu yang tidak terbatas. 

Kau, inang rusukku. Apakah kau seseorang yang telah mengenal buruknya wajah dunia? Ataukah kau seorang pria dari alam ruh yang saat ini tengah mengamatiku dari sebuah cermin ajaib? Ah, kalau kau yang kedua mungkin kau akan kecewa setiap harinya melihatku. Aku terlalu banyak berdosa dan mengacaukan lukisan kehidupanku. 

Maaf karena belum menjadi manusia yang baik. maaf juga karena aku masih menodai lidahku dengan gunjingan dan keluhan yang kadang sengaja atau tidak sengaja keluar. Semoga waktu akan membantuku menyucikan hati dan rasioku. Kau, maaf karena aku selalu bertindak bodoh. Menulis surat yang tidak tahu untuk siapa. Mempublikasikannya ke khalayak ramai, membuat diri sendiri terlihat bodoh dan so’ puitis.
Terserah, ini terjadi karena aku bingung akan dikemanakan semua yang telah kupikirkan. Seperti kata teman kecilku, Anis. Keluarkanlah apa yang telah kau pikirkan, karena jika tidak, maka ide-ide itu akan membusuk tak berguna di salah satu sudut otakmu. Seram sekali bukan.

Essensi Shadaqah

Hei hei hei, apa kabar? Eh salah, Assalamu’alaikum maksud Esa :D

Wow, Ramadhan datang lagiiii. Alhamdulillah ya kita masih dikasih kesempatan buat ketemu dan berteman dengan bulan penuh pengampunan ini.

Eh, postingan Esa kali ini bakalan tentang Ramadhan lho (hastag alay mode on). InsyaAllah Esa bakal tetep nyari ilmunya biar bisa dishare sama kalian (walau gak tau siapa yang bakal baca blog amatir ini) -,-‘

Ok sekarang Esa bakal cerita tentang SHADAQAH. Ilmu ini Esa terima dari Dr. H. Mad Ali, M.H pada hari Minggu 21 Juni 2015 lalu, bertepatan dengan malam kelima Ramadhan.

Shadaqah adalah memberi sesuatu (baik berupa benda materiil atau non-materiil) kepada oranglain tanpa berharap akan mendapatkan imbalan atau pun pujian dari yang menerimanya.

Kata si bapaknya, bapak ini pernah belanja di Pasar Baru dan disindir oleh salah seorang pemilik toko berdarah Ti*ngkok. Kalau gak salah redaksinya mirip-mirip kayak gini: “Itulah bodohnya orang Islam, masa uang yang capek-capek dikumpulin dan dapat usaha banting tulang susah payah, malah dikasihkan begitu saja pada oranglain”.

Yap, orang itu mungkin belum mengerti makna atau essensi unik dari Shadaqah. Shadaqah itu adalah sebuah proses mutualisme. Yang menerima dan yang memberi akan sama-sama mendapatkan keuntungan.

Eiiits tapi yang memberi tentu akan memiliki keuntungan yang lebih banyak. Yang menerima hanya untung sebatas jumlah yang ia terima, tapi yang memberi justru mendapat 700 kali lipatnya. Allah pernah berfirman yang maknanya, jika seorang hamba men-shadaqah-kan uangnya senilai Rp1000 (misalnya), maka uang tersebut akan dinilai sebagai 1 kebaikan, lalu kebaikan tersebut akan bercabang menjadi 7 kebaikan, dan dari tiap cabang itu akan beranting 100 kebaikan. So, jadi berapa? Shadaqah tersebut akan ternilai sebagai Rp700.000 di mata Allah. Wah, keren gak tuh.

Selain daripada itu, shadaqah nyatanya juga bisa dijadikan media sebagai penghalau bencana. Contohnya suatu ketika ada seorang dosen UPI yang kehilangan putri kesayangannya. Setelah dicari susah payah tapi tetap belum juga ketemu, lantas ada yang menyarankan kepada bapak tersebut untuk men-shadaqahkan sejumlah uang dengan ikhlas. Dengan pertolongan Allah, beberapa saat kemudian bapak tersebut menerima kabar kalau putrinya ditemukan di jalan Tol Pasteur dengan keadaan selamat dan tanpa luka atau trauma.

Shadaqah juga satu-satunya investasi yang abadi lho! Jadi sebenarnya, rizki yang benar-benar Allah limpahkan kepada kita itu ada 3 macam. Apa yang telah kamu makan lantas lenyap menjadi kotoran, apa yang telah kamu pakai lantas menjadi usang, dan apa yang kamu belanjakan di jalan Allah lantas menjadi suatu kebaikan.

Jadi nunggu apalagi? Ayo kita perbanyak shadaqah kita di bulan yang mulia ini. Ok, bye. Wassalamu’alaikum :)