Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting penentu masa depannya. Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 (1), pendidikan adalah: “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”. Senin, 22 Juni 2015
Geotrek
Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pendidikan merupakan salah satu faktor terpenting penentu masa depannya. Menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab I Pasal 1 (1), pendidikan adalah: “usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara”. 14 Juni 2015, 20:37 WIB
14 Juni 2015, 20:51 WIB
"Nama kamu siapa?”
“Tempat tinggal kamu dimana?”
“Oh iya, agama kamu apa?”
"Hobi kamu?”
"Kapan kita ketemu?”
“Kamu telah terlahir atau masih di alam ruh?
Essensi Shadaqah
Hei hei hei, apa kabar? Eh salah, Assalamu’alaikum maksud Esa :D
Wow, Ramadhan datang lagiiii. Alhamdulillah ya kita masih dikasih kesempatan buat ketemu dan berteman dengan bulan penuh pengampunan ini.
Eh, postingan Esa kali ini bakalan tentang Ramadhan lho (hastag alay mode on). InsyaAllah Esa bakal tetep nyari ilmunya biar bisa dishare sama kalian (walau gak tau siapa yang bakal baca blog amatir ini) -,-‘
Ok sekarang Esa bakal cerita tentang SHADAQAH. Ilmu ini Esa terima dari Dr. H. Mad Ali, M.H pada hari Minggu 21 Juni 2015 lalu, bertepatan dengan malam kelima Ramadhan.
Shadaqah adalah memberi sesuatu (baik berupa benda materiil atau non-materiil) kepada oranglain tanpa berharap akan mendapatkan imbalan atau pun pujian dari yang menerimanya.
Kata si bapaknya, bapak ini pernah belanja di Pasar Baru dan disindir oleh salah seorang pemilik toko berdarah Ti*ngkok. Kalau gak salah redaksinya mirip-mirip kayak gini: “Itulah bodohnya orang Islam, masa uang yang capek-capek dikumpulin dan dapat usaha banting tulang susah payah, malah dikasihkan begitu saja pada oranglain”.
Yap, orang itu mungkin belum mengerti makna atau essensi unik dari Shadaqah. Shadaqah itu adalah sebuah proses mutualisme. Yang menerima dan yang memberi akan sama-sama mendapatkan keuntungan.
Eiiits tapi yang memberi tentu akan memiliki keuntungan yang lebih banyak. Yang menerima hanya untung sebatas jumlah yang ia terima, tapi yang memberi justru mendapat 700 kali lipatnya. Allah pernah berfirman yang maknanya, jika seorang hamba men-shadaqah-kan uangnya senilai Rp1000 (misalnya), maka uang tersebut akan dinilai sebagai 1 kebaikan, lalu kebaikan tersebut akan bercabang menjadi 7 kebaikan, dan dari tiap cabang itu akan beranting 100 kebaikan. So, jadi berapa? Shadaqah tersebut akan ternilai sebagai Rp700.000 di mata Allah. Wah, keren gak tuh.
Selain daripada itu, shadaqah nyatanya juga bisa dijadikan media sebagai penghalau bencana. Contohnya suatu ketika ada seorang dosen UPI yang kehilangan putri kesayangannya. Setelah dicari susah payah tapi tetap belum juga ketemu, lantas ada yang menyarankan kepada bapak tersebut untuk men-shadaqahkan sejumlah uang dengan ikhlas. Dengan pertolongan Allah, beberapa saat kemudian bapak tersebut menerima kabar kalau putrinya ditemukan di jalan Tol Pasteur dengan keadaan selamat dan tanpa luka atau trauma.
Shadaqah juga satu-satunya investasi yang abadi lho! Jadi sebenarnya, rizki yang benar-benar Allah limpahkan kepada kita itu ada 3 macam. Apa yang telah kamu makan lantas lenyap menjadi kotoran, apa yang telah kamu pakai lantas menjadi usang, dan apa yang kamu belanjakan di jalan Allah lantas menjadi suatu kebaikan.
Jadi nunggu apalagi? Ayo kita perbanyak shadaqah kita di bulan yang mulia ini. Ok, bye. Wassalamu’alaikum :)
Kamis, 16 April 2015
Ayah Gadis Itu
Malam yang senyap menemani seorang gadis pemuja sepi memandang kembali jalan hidupnya. Kehidupan saat ia belajar mengenai makna kebencian dan kesal_kehidupan yang kelam dan beku, yang ternyata akhirnya mencetak kepribadian yang dingin dan tidak suka berbasa-basi. Kehidupan seorang gadis kecil.
Gadis kecil itu serampangan, hanya melakukan apa yang ia suka, tertawa lepas dengan menggenggam sahabatnya, memukul dan menendang mereka yang iseng dan menyebalkan (termasuk laki-laki dengan lidah tajam dan tangan yang gatal).
Tidak salah, gadis kecil itu memang mendapatkan pendidikan serupa di rumahnya. Diperdengarkan teriakan dan caci maki, diperlihatkan tangis dan pukulan, diperkenalkan kepada kebencian.
Awalnya, hari Jumat adalah hari yang ia suka. Hari untuk jajan lebih banyak dari biasanya. Hari untuk bertemu ayah.
Besar sekali keinginannya untuk dipeluk oleh sang Ayah, tapi tidak bisa. Ia tidak pernah mendapatkannya, bahkan keinginannya untuk sering mendapat usapan kepala juga tidak terlaksana. Ya, yang gadis kecil itu tau ayahnya memang bukanlah seorang pria yang manis budi, ramah atau romantis. Ayahnya itu salah satu pria yang cukup kasar, kaku dan jarang berkata manis. Ayah gadis itu beruntung karena menikahi wanita yang ia cintai, namun ternyata sakit juga hidup dengan orang yang sama sekali tidak mencintainya.
Ayah gadis itu pulang pergi Bogor – Sukabumi demi menghidupi istri dan anaknya. Berjuang dengan tenaga yang tersisa di dalam tubuhnya. Seringkali peluhnya bercucuran saat di tengah hari yang terik ia masih harus tetap bekerja. Namun karena jauhnya jarak dengan keluarga membuat mata ayah gadis itu khilaf, melirik wanita-wanita nakal Kota Hujan. Eh, ntah darimana wanita-wanita itu berasal, yang jelas pengkhianatan itu sudah cukup menanamkan bom waktu dalam dada istri dan gadis kecilnya.
Ayah gadis itu, pria yang tidak bisa mengatakan rasa sayangnya. Bahkan di suatu hari yang cerah, saat anaknya pulang membawa hadiah rangking 1 di sekolahnya, pria itu dengan santainya berkata bahwa itu hal yang biasa. Sontak gadis kecil itu marah dalam hati, mengutuk tindakannya diam-diam. Menanam sedikit benci kepada ayahnya sendiri.
Ayah gadis itu, pria yang mendidik keluarganya dengan dingin dan keras. Dengan tamparan dan teriakan. Dengan hening dan pergi.
Ternyata Tuhan mungkin sengaja menganugerahkan pria itu untuk keluarganya. Ternyata waktu memberi luang untuk semua mengerti arah tindakannya. Ayah gadis itu ternyata dermawan, bahkan lebih dermawan sehingga mendahulukan oranglain dibanding keluarganya. Ayah gadis itu juga ramah, kepada oranglain sehingga mereka selalu memanggilnya untuk membantu menyelesaikan masalah kelompok. Ayah gadis itu juga hangat dan lunak di dalam hatinya. Bagai seekor kerang dibalik cangkangnya, halus dan mengandung mutiara.
Kini gadis kecil itu mengerti semua yang Tuhan gariskan untuknya. Gadis kecil itu tau maksud Tuhan, Tuhan yang sengaja memberinya ayah yang begitu. Buktinya, dengan begitu dia bisa meraih lebih banyak prestasi. Mengerti alur kehidupan, bahkan sangat mencintai apa yang pernah ia benci. Ya, kini gadis kecil yang telah beranjak dewasa itu malah merindukan sang Ayah. Sang ayah yang mengajarkannya arti bangkit saat terjatuh, kuat saat kecewa dan berjuang saat semua meragukan. Rasa terimakasih rasanya ingin gadis itu teriakan di tengah malam ini. Merobek gulita dengan kata yang sama yang tidak bisa dikatakan ayah dalam dunia nyata. Kata-kata cinta dan kerinduan.
16 April 2015, 13:00 WIB
Filosofi Dandelion
Dandelion adalah nama salah satu bunga liar yang sering tumbuh di pinggir jalan atau sungai. Dandelion memiliki postur tubuh yang mungil dan merupakan bunga dengan struktur fisiologi yang sederhana.
Kenapa Esa suka dandelion ? Semua berawal sejak Esa duduk di bangku kelas XI MAN Cibadak Sukabumi. Waktu itu Esa iseng-iseng ke perpus, niat baca sama ngeceng penjaga perpus haha.
"Dandelion itu bunga yang unik, kamu pernah dengar filosofi tentang dandelion ?"
"Tidak pernah"
"Ok sekarang kamu pegang bunga ini, pejamkan mata dan ucapkan semua mimpi serta harapanmu"
"Udah"
"Sekarang buka mata, tiup dandelion itu dengan keras. Biarkan tunas itu terbang terbawa angin hingga ke tempat yang jauh, laksana mimpi-mimpi kita yang akan pergi jauh menuju kenyataan"
Begitulah kiranya sepenggal cerita yang Esa baca dari salah satu majalah sastra di perpustakaan. Cerita yang manis dan cantik. Semenjak itu Esa benar-benar jadi seorang pemuja dandelion. Esa berharap jadi seorang penyimpan asa dan harapan, kayak dandelion :) Dandelion yang sederhana, namun rela terurai demi tumbuhnya peradaban dandelion yang baru. Dandelion si pengembara dan pembawa mimpi.